Me, MySelf and I
23 May
Popularity: 6% [?]
22 May
Kehidupan Sang Elang
Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang didunia.
Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.
Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal,sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: Menunggu kematian, atau Mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan — suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.
Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang keatas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang , berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.
Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.
Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh.
Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!
Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan.
Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan. Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru, kita baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan.
Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah sang penguasa atas diri anda.
Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan semangat kita.
Anda adalah elang-elang itu.
Perubahan pasti terjadi.
Maka itu, kita harus berubah!
Popularity: 5% [?]
11 May

Melihat postingan si om eko disini, gue juga nyoba ngetes searching “ady” di google.
Hasilnya nomor satu juga tuh.
Popularity: 6% [?]
18 Dec
Pinter-pinter lah menjilat atasan.. bawahan sih masa bodo… huahuahuhaaa…
Tapi susah juga bagi gue yg nggak bisa menjilat.. abis enaknya di jilat-jilat aja sih..
huwhauwhauhwuhauhwuawa…..
Popularity: 10% [?]
2 Dec
duh senangnya.. nggak fakir benwith lagi kalo dirumah.
tapi abis itu bingung mo ngapain… hehehehhehe..
trus bolak balik liat jumlah data yg ketransfer…
hehhehehe.. susahnya pake paket yg dibatesin jumlah bytenya begini nih..
takut juga tagihan melonjak
Popularity: 3% [?]
22 Nov
Kejadiannya sih barusan nih.. (sekarang udah sampe di rumah)
Pulang kantor sekitar pukul 23.30 dari kantor yg letaknya di Jl. Jend. Gatot Subroto. Pulang ke arah Ciputat.
Biasanya sih dari situ muter balik trus lewat sudirman.
Tapi malem itu sepertinya sepi dan asik nih lewat jalan lain.
Akhirnya ngambil arah mampang, udah sepi sih.. tapi jalannya nggak beraturan aspalnya. Trus belok kanan arah kemang. Lewat kemang kalo malem emang asik.
Sepi, jalannya alus dan, menantang.
Dari kemang keluar trus ke jl benda, jeruk purut, trus abuba, cipete, fatmawati tanpa berhenti dengan kecepatan konstan sekitar 70-80 km/jam.
Duh.. kalo tiap hari gini enak banged nih.
Dari fatmawati trus belok kanan.. arah JIS Pondok Indah, bunderan Pondok Indah, terus Deplu, trus ambil Bintaro Sektor I masuk bintaro raya..
terus sampe sektor 7, keluar nyebrangin tol lewat jembatan terus perempatan Kampung Sawah belok kanan, trus.. terus… wah jalannya mantab deh kalo malem dan sepi.. kalo siang? banyak angkot.. ![]()
Kecepatan tetep konstan 70-80 km/jam.. dan sering maenin saklar lampu.
Kalo sepi pindah pake lampu jauh, kalau ada kendaraan dari depan kembali lagi ke lampu biasa. Selama perjalanan lampu emang di “cetak-cetek”
sampe deket kompleks rumah, biasanya motong jalan lewat Bukit Nusa Indah
tapi berhubung lagi menikmati perjalanan, dan kondisi setingan motor lagi enak.. tenaga mesin yang standar terasa penuh di setiap putaran mesin (thanks to AHASS HTML, setingannya pas), lanjut jalannya ambil arah pamulang, nggak jadi motong. Agak muter.. ya tapi lagi pengen jalan jadinya asik2x aja.
Di perempatan arah ciputat dan pamulang belok kanan terus.. lanjut.. kecepatan konstan..
nggak lama.. nggak tau di daerah mana.. dimana penerangan jalan tidak terlalu terang dan gue menggunakan lampu jauh. Di kejauhan tampak kendaraan di depan. Otomatis saklar lampu gue pindah ke lampu biasa. Tapi.. loh koq malah gelap? coba di “cetak-cetek” lampu jauh bisa.. balik ke normal nggak bisa. Mati!!. Wah putus lagi nih lampu deketnya pikir gue dalem hati.
Mau pake lampu sore gelapnya minta ampun. Akhirnya diputuskan pake lampu jauh aja. Maap yah.. kendaraan yg dari depan.. silau mungkin.
Ada kali sekitar 10 menit gue pake lampu jauh akhirnya ketemu juga jalan masuk ke komplek. Dari perempatan yg kekiri ke Pamulang II (Pondok Benda) gue ke kanan ke arah Vila Dago Tol.
Nggak sengaja saklar lampu gue teken balik jadi lampu biasa, dan ajaib!!!! nyala tuh lampu deket.. wah.. kenapa tadi nggak bisa?
huahuhauhuah.. sampe sekarang masih kepikiran tuh.
apakah lampu atau kabel2xnya konslet? atau ada sebab lain?
Popularity: 6% [?]
1 Nov
– A boss creates fear, a leader confidence. A boss fixes blame, a leader corrects mistakes. A boss knows all, a leader asks questions. A boss makes work drudgery, a leader makes it interesting. A boss is interested in himself or herself, a leader is interested in the group.|Ewing, Russel H.
*abis ngeliat signature seseorang di milis*
Popularity: 2% [?]
24 Oct
*Copy paste dari tempat lain*
Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA tahun ini dan
seterusnya.
Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di
serambi masjid. Saya diajak duduk bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi.
Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan saya
diminta bergabung.
“Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,” kata Fadli
setelah saya duduk.
”Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama,sekitab suci, senabi; tapi
nanti kita akan berlebaran pada hari yang berbeda.
Dikampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari
Selasa.Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?”
Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu
memang terasa tidak bermutu, bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang
merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang Ngalwi
pasti akan digilas dengan jawaban: ”Sudahlah, pokoknya kita hormati
keyakinan masing-masing. Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun
Selasa, semua
baik-baik saja karena keduanya berpegang dengan keyakinan masing-masing,
dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang
mereka ambil.”
Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat Islam.
Namun sebenarnya kearifan tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak
nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di lapisan bawah.
Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin
mewakili perasaan umum masyarakat awam.
Jelasya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang
berbeda hari.
Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah
bertakbir dan masjid kita masih melakukan shalat Tarawih.
Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap
gulai kambing, berpakaian bagus, bergembira ria karena hari Lebaran
sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa.
Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa
diterima oleh teman yang Lebarannya baru besok hari.
”Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab
pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah merenung,” Fadli mengingatkan saya.
”Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama
sering mendengar ceramah yang menyinggung masalah perbedaan hari
Lebaran,”jawab saya.
”Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan
lebih suka Lebaran bareng atau Lebaran sendiri-sendiri?” kejar Fadli.
”Saya lebih suka Lebaran bareng.”
”Kenapa?”
”Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi
masih ada di tengah kita, saya yakin beliau tidak berkenan dengan
Lebaran yang tidak kompak ini.”
”Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak
dalam menentukan hari Lebaran?”
Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan
ditertawakan oleh para alim. Maka saya senang ketika Uun mengambil alih
dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli.
”Begini, Fad,” kata Uun. ”Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin
memang punya dasar berupa dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira,
adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.”
”Memutlakkan bagaimana?”
”Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam
yang amat menjunjung tinggi kebersamaan. Dan membuat umat di bawah
menjadi tidak nyaman.”
”Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam
adalah rahmat.”
”Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan.
Dan saya sangat yakin Kanjeng Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari
Lebaran ini.”
”Kalau begitu kamu punya gasasan apa?”
”Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi,
Fad, kamu jangan kaget: Mari kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui
keputusan politik. Ada beberapa opsi yang ingin saya tawarkan, tapi saya
kemukakan satu saja yang paling sederhana.”
”Lebaran dengan keputusan politik?” tanya Fadli dengan mata melebar.
Terus terang saya dan yang lain juga terkejut.
”Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA
pernah mengambil keputusan politik untuk mengatur suatu ritus ibadah,
dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat Tarawih berjamaah
dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah
itu bukan keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam
waktu itu
melaksanakan shalat Tarawih sendiri-sendiri sehingga di mata beliau
kurang enak dipandang?”
Kecuali Uun yang tertawa-tawa, lainnya jadi memasang wajah serius karena
merasa tersodok oleh pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan,
masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan omongannya.
”Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran
kompak saja makmum ke Makkah? Maka kita akan melaksanakan shalat Id
bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya pelaksanaannya
kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku
paling jago dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal.
Dan yang penting kita jadi lebih patut karena sebagai umat yang mengaku
paling baik, bisa berlebaran bareng.”
Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan
Kang Ngalwi amat-sangat setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu
tadi, STAIN saja tidak tamat.
Popularity: 4% [?]
822
72
22
12
0
483
414
33
6
6
2
0
0
0
0