blog.adypermadi.com

Me, MySelf and I

Archive for the ‘day by day’ Category

[QOTD] Boss And Leader

– A boss creates fear, a leader confidence. A boss fixes blame, a leader corrects mistakes. A boss knows all, a leader asks questions. A boss makes work drudgery, a leader makes it interesting. A boss is interested in himself or herself, a leader is interested in the group.|Ewing, Russel H.

*abis ngeliat signature seseorang di milis*

Popularity: 3% [?]

  • 0 Comments
  • Filed under: day by day
  • *Copy paste dari tempat lain*

    Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA tahun ini dan
    seterusnya.

    Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di
    serambi masjid. Saya diajak duduk bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi.
    Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan saya
    diminta bergabung.

    “Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,” kata Fadli
    setelah saya duduk.
    ”Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama,sekitab suci, senabi; tapi
    nanti kita akan berlebaran pada hari yang berbeda.
    Dikampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari
    Selasa.Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?”

    Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu
    memang terasa tidak bermutu, bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang
    merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang Ngalwi
    pasti akan digilas dengan jawaban: ”Sudahlah, pokoknya kita hormati
    keyakinan masing-masing. Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun
    Selasa, semua
    baik-baik saja karena keduanya berpegang dengan keyakinan masing-masing,
    dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang
    mereka ambil.”

    Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat Islam.
    Namun sebenarnya kearifan tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak
    nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di lapisan bawah.

    Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin
    mewakili perasaan umum masyarakat awam.
    Jelasya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang
    berbeda hari.

    Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah
    bertakbir dan masjid kita masih melakukan shalat Tarawih.

    Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap
    gulai kambing, berpakaian bagus, bergembira ria karena hari Lebaran
    sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa.

    Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa
    diterima oleh teman yang Lebarannya baru besok hari.

    ”Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab
    pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah merenung,” Fadli mengingatkan saya.

    ”Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama
    sering mendengar ceramah yang menyinggung masalah perbedaan hari
    Lebaran,”jawab saya.

    ”Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan
    lebih suka Lebaran bareng atau Lebaran sendiri-sendiri?” kejar Fadli.

    ”Saya lebih suka Lebaran bareng.”
    ”Kenapa?”
    ”Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi
    masih ada di tengah kita, saya yakin beliau tidak berkenan dengan
    Lebaran yang tidak kompak ini.”

    ”Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak
    dalam menentukan hari Lebaran?”

    Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan
    ditertawakan oleh para alim. Maka saya senang ketika Uun mengambil alih
    dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli.

    ”Begini, Fad,” kata Uun. ”Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin
    memang punya dasar berupa dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira,
    adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.”

    ”Memutlakkan bagaimana?”

    ”Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam
    yang amat menjunjung tinggi kebersamaan. Dan membuat umat di bawah
    menjadi tidak nyaman.”

    ”Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam
    adalah rahmat.”

    ”Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan.
    Dan saya sangat yakin Kanjeng Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari
    Lebaran ini.”

    ”Kalau begitu kamu punya gasasan apa?”

    ”Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi,
    Fad, kamu jangan kaget: Mari kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui
    keputusan politik. Ada beberapa opsi yang ingin saya tawarkan, tapi saya
    kemukakan satu saja yang paling sederhana.”

    ”Lebaran dengan keputusan politik?” tanya Fadli dengan mata melebar.
    Terus terang saya dan yang lain juga terkejut.

    ”Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA
    pernah mengambil keputusan politik untuk mengatur suatu ritus ibadah,
    dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat Tarawih berjamaah
    dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah
    itu bukan keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam
    waktu itu
    melaksanakan shalat Tarawih sendiri-sendiri sehingga di mata beliau
    kurang enak dipandang?”

    Kecuali Uun yang tertawa-tawa, lainnya jadi memasang wajah serius karena
    merasa tersodok oleh pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan,
    masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan omongannya.

    ”Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran
    kompak saja makmum ke Makkah? Maka kita akan melaksanakan shalat Id
    bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya pelaksanaannya
    kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku
    paling jago dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal.
    Dan yang penting kita jadi lebih patut karena sebagai umat yang mengaku
    paling baik, bisa berlebaran bareng.”

    Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan
    Kang Ngalwi amat-sangat setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu
    tadi, STAIN saja tidak tamat.

    Popularity: 5% [?]

    Mungkin Sekali Saya Sendiri Juga Maling

    Oleh Taufiq Ismail

    Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani
    hutang dan merayap melata sengsara di dunia. Penganggur 40 juta orang,
    anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta
    anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus beredar 20 juta
    keping, kriminalitas merebat di setiap tikungan jalan dan beban hutang
    di bahu 1600 trilyun rupiahnya.

    Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor
    Pegadaian Jagat Raya, dan di punggung kita dicap sablon besar-besar
    Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan
    babu, menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.

    Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh
    harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka
    berdukacita karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang
    disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri
    diperas pula.

    Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
    Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku. Dulu penjajah
    kita satu negara, kini penjajah multi-kolonialis banyak bangsa. Mereka
    berdasi sutra, ramah-tamah luarbiasa dan banyak senyumnya. Makin banyak
    kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah
    dipatahkannya.

    Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali. Berbagai format
    perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian. Nomor satu
    paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji,
    adalah industri korupsi.

    Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
    ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
    Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
    jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,
    yang di atas tukang tindas. Untuk bisa bertahan berakal waras saja di
    Indonesia, sudah untung.

    Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah. Mereka bersaf-saf
    berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’. Begitu rapatnya
    mereka berdiri susah engkau menembusnya. Begitu sistematiknya
    prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya. Begitu khusyu’nya, engkau
    kira mereka beribadah. Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling
    yang istiqamah?

    Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan
    sampai ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah
    panjang deretan saf jamaah. Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan
    lintas jenis kelamin.

    Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah? Bagaimana
    menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas
    sampai ke bawah? Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari
    yang pegang senjata dan yang memerintah.

    Bagaimana ini?

    Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
    Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim
    piatu dan sekolahan.
    Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana ke mari, kaki kanannya
    bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

    Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak
    kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.
    Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
    Jamaahnya kukuh seperti diding keraton, tak mempan dihantam gempa dan
    banjir bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang
    undang-undang, penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi
    bergantian.

    Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan
    ribu, barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara
    mini, meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif,
    legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan
    mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya?

    Mau diperiksa dan diusut secara hukum?

    Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?

    Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?

    Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?

    Percuma

    Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak
    akan terselesaikan.
    Jadi, saudaraku, bagaimana caranya? Bagaimana caranya supaya mereka mau
    dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia mengembalikan jarahan yang
    berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan. Kita doakan
    Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka orang
    yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.

    Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

    Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada
    hubungan darah atau teman sekolah, maka kita cenderung tutup mata, tak
    sampai hati menegurnya.

    Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
    orang seagama atau sedaerah, kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu
    dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan
    cipratan harta tanpa ketahuan.

    Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati. Dan lihat
    kini jendela dan pintu rumah Indonesia dimakan rayap. Kayu kosen,
    tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai. Dinding dan langit-
    langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap. Tempat tidur dan
    lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah
    anai-anai.

    Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai
    habis dikunyah-kunyah rayap. Rumah Indonesia menunggu waktu, masa
    rubuhnya yang sempurna.

    Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
    Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.

    “Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!” teriak mereka.

    “Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.

    Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

    Aku melarikan diri kencang-kencang.

    Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi.

    Mereka menangkapku.

    “Ambil bensin!” teriak seseorang.

    “Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.

    Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

    Seseorang memantik korek api.

    Aku dibakar.

    Bau kawanan rayap hangus.

    Membubung Ke udara.

    ****

    Popularity: 3% [?]

  • 1 Comment
  • Filed under: day by day
  • Sekelumit Cerita dari Gempa Jogja

    Untuk jadi bahan renungan …..

    Mohon perkenan membaca beberapa cerita nyata berikut
    ini. Bersyukurlah saya, kita semua.

    “Nikmat Tuhan mana lagi yang akan engkau dustakan”.

    (1)

    SeKATA

    SeKATA. SukarElawan duKA YogyakarTA. Kami tak
    siapa-siapa. Hanya orang-orang yang masih punya
    tenaga. Ada mahasiswa UGM, UII, UIN.
    Mahasiswa Sulawesi Selatan, pegawai Lembaga Ombudsman
    Daerah, Indonesian Court Monitoring, Keluarga Alumni
    Gadjah Mada (Kagama) dan lain-lain. SeKATA punya cara
    kerja sederhana. Mengumpulkan dana dari dermawan,
    membelikan sembako di masa tanggap darurat, dan
    menyalurkannya ke daerah yang belum tersentuh bantuan
    sama sekali.

    Semua bergerak dengan sukarela, dengan kerja nyata.
    Tanpa banyak kata. Hanya demi korban gempa, ber-Seiya
    Sekata, membangun barisan:
    SukarElawan duKA YogyakarTA.

    ****

    (2)

    Gempa di Negeri Kampung Maling

    Pasca gempa Yogya. Dusun Kepek, Jetis, Bantul.
    Hadirlah bukti nyata Indonesia, “Negeri Kampung
    Maling”. Pencuri mengambil kesempatan di tengah duka
    gempa sekalipun.

    Malam hari, gelap-gulita. Tak ada listrik, hanya
    diterangi cahaya rembulan. Di tengah guyuran lebat
    hujan. Di tenda posko yang seadanya.
    Meluncurlah pick up bak terbuka. Berkedok seperti para
    relawan membawa bantuan. Nyatanya, para relawan
    gadungan itu tega, teramat tega.
    Mereka tanpa hati mencuri sembilan motor korban gempa
    yang sedang diparkir di samping posko bantuan.

    “Hanya itu yang tersisa. Kami tak punya apa-apa”.

    “Rumah tiada, sanak keluarga menjadi korban. Sekarang
    kecurian”.

    “Teganya mereka ya Allah”.

    Di negeri kampung maling, gempa bukan hanya mengetuk
    para relawan, tetapi juga para manusia yang tak punya
    perasaan kemanusiaan.

    *****

    (3)

    Kejujuran Kain Kafan

    Seorang korban datang dari Klaten. Membawa kabar duka
    ke sekian.
    Warganya 18 orang menuju sakratul maut. Rumah sakit
    sudah menyerah.
    Mereka harus siap-siap dengan prosesi pemakaman ke
    sekian.

    Kain kafan tak tersedia di manapun mata memandang.
    Meski demikian, uang 400 ribu diberikan ke seorang
    relawan. Misinya: cari kain kafan.
    Entah siapa sang relawan, kami pun tak kenal. Yang
    jelas dia datang,menyatakan siap bergabung dengan
    SeKATA. Dari pagi hingga sore, tak ada kabar.
    Bendahara SeKATA mulai gelisah.

    Menjelang Maghrib datanglah sang relawan. Membawa
    segulung kain kafan.
    Dengan muka sumringah.

    “saya berputar. Tak ada kafan dimana-mana” .

    Akhirnya di daerah Jalan Prambanan km 19 ada Dewa
    Tekstil, yang sudah bersiap tutup.

    “Mbak saya mau beli kain kafan. Untuk 18 orang korban
    gempa”.

    “Ambil saja Mas. Gratis”. Ada mata sayu, dan senyum
    sendu seiring suara tulus itu.

    “Alhamdulillah” .

    Lalu sang relawan, masih dengan senyum, merogoh saku
    celananya.
    Dikeluarkannya uang 400 ribu. Diserahkannya kembali ke
    bendahara SekATA.

    “Gratis mbak, ini uangnya tidak jadi terpakai”.

    Sang bendahara, tersenyum. Masih merasa berdosa,
    karena sempat berprasangka buruk.

    “Terimakasih mas”.

    “Eh, siapa namamu”.

    “Aris”.

    Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih
    ada kejujuran di negeri kampung maling.

    Terimakasih Aris.

    *****

    (4)

    Kejujuran Loper Koran

    Pasca gempa. Loper koran saya masih rajin berkeliling
    dengan sepeda ontelnya.

    “Pak, bagaimana kondisi panjenengan” .

    “Saya di Bantul Pak. Saya tidak punya rumah lagi.
    Rubuh.”

    “Hhhhh….turut berduka Pak. Bagaimana keluarga Bapak”

    Tak ada sahutan. Hanya matanya mulai berkaca. Diam.
    Dan berlalu dengan sepeda ontelnya.

    Saya dan istri terdiam. Terpaku.

    Esoknya.

    “Pak ini ada bantuan sembako. Bapak bawa dan ini
    ongkosnya”.

    “Jangan Bu…kalau saya terima. Itu hanya untuk saya.
    Padahal banyak warga di tempat saya yang membutuhkan.
    Ibu bawa bantuan dan uang itu ke lokasi saja. Jangan
    diberikan kepada saya”.

    Ah…betul-betul air di tengah kemarau. Di tengah
    banyak korban berteriak meminta bantuan. Sang loper
    koran dengan wajah lugunya, suara seraknya, tetap
    bertahan dengan idealisme sederhananya.

    Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih
    ada kejujuran di negeri kampung maling.

    Terimakasih Pak Paijo.

    *****

    Popularity: 10% [?]

    atau Term Of Service dalam bahasa Inggrisnya

    karena ada kalimat seperti ini :D

    ANDA MENGERTI DAN MENYETUJUI BAHWA BILA ANDA DOENLOAD ATAU MENDAPATKAN MATERI ATAU DATA DARI MENGGUNAKAN LAYANAN PENCARIAN GOOGLE DENGAN KEBIJAKAN DAN RESIKO ANDA SENDIRI DAN ANDA BERTANGGUNG JAWAB ATAS KERUSAKAN SISTEM KOMPUTER ANDA ATAU KEHILANGAN DATA YANG BERASAL DARI DOWNLOAD MATERI ATAU DATA TERSEBUT.

    BEBERAPA NEGARA BAGIAN ATAU DAERAH-DAERAH KEKUASAAN LAIN TIDAK MEMPERBOLEHKAN PENGECUALIAN ATAS GARANSI YANG DIARTIKAN, JADI PENGECUALIAN-PENGECUALIAN DI ATAS BELUM TENTU BERLAKU PADA ANDA. ANDA MUNGKIN MEMPUNYAI HAK-HAK LAIN YANG BERBEDA DARI NEGARA-NEGARA BAGIAN DAN DAERAH-DAERAH KEKUASAAN YANG SATU DENGAN YANG LAIN.

    Batas dari Pertanggungjawaban

    gak usah dibaca setuju aja deh!

    Beberapa negara bagian tidak memperbolehkan pengecualian atau pembatasan atas kecelakaan atau akibat kerusakan, jadi pembatasan atau pengecualian yang di atas tidak berlaku atas diri anda

    Tanpa membatasi yang sebelumnya, tanpa dasar apapun juga Google tidak bertanggung jawab atas adanya penundaan atau kegagalan dalam tindakannya yang disebabkan oleh alam, pemaksaan, atau sebab-sebab yang tidak dapat dicegah langsung atau tidak langsung, termasuk, tanpa batas, matinya internet, matinya alat komputer, matinya alat yang lain, mati listrik, pemogokan, pertikaian buruh, huru-hara, gangguan sipil, kurangnya buruh atau peralatan, kebakaran, banjir, badai, peledakan, atas kehendak Tuhan, perang, tindakan pemerintah,perintah dari pengadilan dalam atau luar negeri, tindakan yang tidak dilakukan oleh pihak ketiga, atau hilangnya/ turunnya fluktuasi panas, sinar, atau pendingin ruangan.

    yang aslinya seperti ini

    YOU UNDERSTAND AND AGREE THAT YOU DOWNLOAD OR OTHERWISE OBTAIN MATERIAL OR DATA THROUGH THE USE OF THE GOOGLE SERVICES AT YOUR OWN DISCRETION AND RISK AND THAT YOU WILL BE SOLELY RESPONSIBLE FOR ANY DAMAGES TO YOUR COMPUTER SYSTEM OR LOSS OF DATA THAT RESULTS FROM THE DOWNLOAD OF SUCH MATERIAL OR DATA.

    SOME STATES OR OTHER JURISDICTIONS DO NOT ALLOW THE EXCLUSION OF IMPLIED WARRANTIES, SO THE ABOVE EXCLUSIONS MAY NOT APPLY TO YOU. YOU MAY ALSO HAVE OTHER RIGHTS THAT VARY FROM STATE TO STATE AND JURISDICTION TO JURISDICTION.

    Limitation of LiabilityUNDER NO CIRCUMSTANCES SHALL GOOGLE OR ITS LICENSORS BE LIABLE TO ANY USER ON ACCOUNT OF THAT USER’S USE OR MISUSE OF OR RELIANCE ON THE GOOGLE SERVICES. ARISING FROM ANY CLAIM RELATING TO THIS AGREEMENT OR THE SUBJECT MATTER HEREOF SUCH LIMITATION OF LIABILITY SHALL APPLY TO PREVENT RECOVERY OF DIRECT, INDIRECT, INCIDENTAL, CONSEQUENTIAL, SPECIAL, EXEMPLARY, AND PUNITIVE DAMAGES WHETHER SUCH CLAIM IS BASED ON WARRANTY, CONTRACT, TORT (INCLUDING NEGLIGENCE), OR OTHERWISE, (EVEN IF GOOGLE OR ITS LICENSORS HAVE BEEN ADVISED OF THE POSSIBILITY OF SUCH DAMAGES). SUCH LIMITATION OF LIABILITY SHALL APPLY WHETHER THE DAMAGES ARISE FROM USE OR MISUSE OF AND RELIANCE ON THE GOOGLE SERVICES, FROM INABILITY TO USE THE GOOGLE SERVICES, OR FROM THE INTERRUPTION, SUSPENSION, OR TERMINATION OF THE GOOGLE SERVICES (INCLUDING SUCH DAMAGES INCURRED BY THIRD PARTIES). THIS LIMITATION SHALL ALSO APPLY WITH RESPECT TO DAMAGES INCURRED BY REASON OF OTHER SERVICES OR GOODS RECEIVED THROUGH OR ADVERTISED ON THE GOOGLE SERVICES OR RECEIVED THROUGH ANY LINKS PROVIDED IN THE GOOGLE SERVICES, AS WELL AS BY REASON OF ANY INFORMATION OR ADVICE RECEIVED THROUGH OR ADVERTISED ON THE GOOGLE SERVICES OR RECEIVED THROUGH ANY LINKS PROVIDED IN THE GOOGLE SERVICES. THIS LIMITATION SHALL ALSO APPLY, WITHOUT LIMITATION, TO THE COSTS OF PROCUREMENT OF SUBSTITUTE GOODS OR SERVICES, LOST PROFITS, OR LOST DATA. SUCH LIMITATION SHALL FURTHER APPLY WITH RESPECT TO THE PERFORMANCE OR NON-PERFORMANCE OF THE GOOGLE SERVICES OR ANY INFORMATION OR MERCHANDISE THAT APPEARS ON, OR IS LINKED OR RELATED IN ANY WAY TO, THE GOOGLE SERVICES. SUCH LIMITATION SHALL APPLY NOTWITHSTANDING ANY FAILURE OF ESSENTIAL PURPOSE OF ANY LIMITED REMEDY AND TO THE FULLEST EXTENT PERMITTED BY LAW.

    Hayoooo.. sapa nih yg terjemahin.. :D

    Popularity: 8% [?]

  • 4 Comments
  • Filed under: day by day
  • Sehubungan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006 yang jatuh pada
    tanggal 31 Mei 2006, maka kami, penulis blog yang peduli dengan masalah ini,
    bermaksud untuk memperingatkan kita semua akan bahaya merokok:

    1. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau BERBAHAYA DALAM BENTUK APAPUN.
    Rokok, rokok pipa, bidi, kretek, rokok beraroma cengkeh, snus, snuff, rokok
    tanpa asap, cerutu… semuanya berbahaya.

    2. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau dalam jenis, nama dan rasa apapun
    sama bahayanya. Tembakau BERBAHAYA DALAM SAMARAN APAPUN. Mild, light, low tar,
    full flavor, fruit flavored, chocolate flavored, natural, additive-free,
    organic cigarette, PREPS (Potentially Reduced-Exposure Products),
    harm-reduced… semuanya berbahaya. Label-label tersebut TIDAK menunjukkan
    bahwa produk-produk yang dimaksud lebih aman dibandingkan produk lain tanpa
    label-label tersebut.

    3. Menuntut Pemerintah Republik Indonesia untuk sesegera mungkin meratifikasi
    WHO Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC) demi kesehatan penerus
    bangsa. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani
    perjanjian Internasional ini.

    Internet, 31 Mei 2006

    Tertanda,

    Bi[G]

    Popularity: 4% [?]

    Gempa di mana-mana?

    Jadi inget pilem The Core

    Inti bumi sedang “di tembak”

    Popularity: 3% [?]

  • 1 Comment
  • Filed under: day by day
  • KALI INI PAPUA!!!!! GEMPA!!! 5.6 M

    140_-5.gif

    Magnitude 5.6 - PAPUA, INDONESIA

    Earthquake Details

    Magnitude 5.6 (Moderate)
    Date-Time
  • Tuesday, May 30, 2006 at 03:28:52 (UTC)
    = Coordinated Universal Time
  • Tuesday, May 30, 2006 at 12:28:52 PM
    = local time at epicenter
  • Location 3.723°S, 140.127°E
    Depth 30 km (18.6 miles) set by location program
    Region PAPUA, INDONESIA
    Distances
  • 147 km (91 miles) SSW (206°) from Jayapura, Irian Jaya, Indonesia
  • 174 km (108 miles) SW (228°) from Vanimo, New Guinea, PNG
  • 269 km (167 miles) N (356°) from Tanahmerah, Irian Jaya, Indonesia
  • 1009 km (627 miles) NW (309°) from PORT MORESBY, Papua New Guinea
  • Location Uncertainty horizontal +/- 8.3 km (5.2 miles); depth fixed by location program
    Parameters Nst= 45, Nph= 45, Dmin=998.6 km, Rmss=1 sec, Gp= 50°,
    M-type=body magnitude (Mb), Version=6
    Source
  • U.S. Geological Survey, National Earthquake Information Center
    World Data Center for Seismology, Denver
  • Event ID usniaf

    Popularity: 4% [?]

  • 4 Comments
  • Filed under: day by day
  • "Kebesaran seseorang tidak terlihat ketika ia berdiri dan memberi perintah, tetapi ketika ia berdiri sama tinggi dengan orang lain dan membantu orang lain untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka guna mencapai sukses..."

    Photos

    21112008004211120080022111200800130/10/200830/10/200830/10/200825102008257.jpg25/10/2008SabriyaSabriyaSabriyaSabriya

    Categories

    Calendar

    November 2008
    M T W T F S S
    « Oct    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930

    Translator

    Indonesian flagItalian flagKorean flagChinese (Simplified) flagPortuguese flagEnglish flagGerman flagSpanish flagJapanese flagArabic flag
    Russian flagGreek flagDutch flagBulgarian flagCzech flagDanish flagPolish flagRumanian flagNorwegian flagSwedish flag
    Catalan flagFilipino flagHebrew flagLatvian flagLithuanian flagSerbian flagSlovak flagSlovenian flagUkrainian flagVietnamese flag
    By N2H

    BlogRoll


    Loved One


    Prends


    Seruangan


    Archives


    Meta


      Writing

      146 articles
      931 comments

        Comments

        platform
        784 
        72 
        22 
        12 


        browsers
        489
        365
        32
        6
        5
        2
        2
        0
        0
        0
        0
        0