Me, MySelf and I
1 Nov
– A boss creates fear, a leader confidence. A boss fixes blame, a leader corrects mistakes. A boss knows all, a leader asks questions. A boss makes work drudgery, a leader makes it interesting. A boss is interested in himself or herself, a leader is interested in the group.|Ewing, Russel H.
*abis ngeliat signature seseorang di milis*
Popularity: 3% [?]
24 Oct
*Copy paste dari tempat lain*
Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA tahun ini dan
seterusnya.
Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di
serambi masjid. Saya diajak duduk bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi.
Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan saya
diminta bergabung.
“Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,” kata Fadli
setelah saya duduk.
”Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama,sekitab suci, senabi; tapi
nanti kita akan berlebaran pada hari yang berbeda.
Dikampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari
Selasa.Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?”
Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu
memang terasa tidak bermutu, bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang
merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang Ngalwi
pasti akan digilas dengan jawaban: ”Sudahlah, pokoknya kita hormati
keyakinan masing-masing. Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun
Selasa, semua
baik-baik saja karena keduanya berpegang dengan keyakinan masing-masing,
dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang
mereka ambil.”
Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat Islam.
Namun sebenarnya kearifan tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak
nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di lapisan bawah.
Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin
mewakili perasaan umum masyarakat awam.
Jelasya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang
berbeda hari.
Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah
bertakbir dan masjid kita masih melakukan shalat Tarawih.
Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap
gulai kambing, berpakaian bagus, bergembira ria karena hari Lebaran
sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa.
Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa
diterima oleh teman yang Lebarannya baru besok hari.
”Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab
pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah merenung,” Fadli mengingatkan saya.
”Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama
sering mendengar ceramah yang menyinggung masalah perbedaan hari
Lebaran,”jawab saya.
”Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan
lebih suka Lebaran bareng atau Lebaran sendiri-sendiri?” kejar Fadli.
”Saya lebih suka Lebaran bareng.”
”Kenapa?”
”Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi
masih ada di tengah kita, saya yakin beliau tidak berkenan dengan
Lebaran yang tidak kompak ini.”
”Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak
dalam menentukan hari Lebaran?”
Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan
ditertawakan oleh para alim. Maka saya senang ketika Uun mengambil alih
dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli.
”Begini, Fad,” kata Uun. ”Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin
memang punya dasar berupa dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira,
adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.”
”Memutlakkan bagaimana?”
”Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam
yang amat menjunjung tinggi kebersamaan. Dan membuat umat di bawah
menjadi tidak nyaman.”
”Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam
adalah rahmat.”
”Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan.
Dan saya sangat yakin Kanjeng Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari
Lebaran ini.”
”Kalau begitu kamu punya gasasan apa?”
”Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi,
Fad, kamu jangan kaget: Mari kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui
keputusan politik. Ada beberapa opsi yang ingin saya tawarkan, tapi saya
kemukakan satu saja yang paling sederhana.”
”Lebaran dengan keputusan politik?” tanya Fadli dengan mata melebar.
Terus terang saya dan yang lain juga terkejut.
”Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA
pernah mengambil keputusan politik untuk mengatur suatu ritus ibadah,
dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat Tarawih berjamaah
dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah
itu bukan keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam
waktu itu
melaksanakan shalat Tarawih sendiri-sendiri sehingga di mata beliau
kurang enak dipandang?”
Kecuali Uun yang tertawa-tawa, lainnya jadi memasang wajah serius karena
merasa tersodok oleh pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan,
masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan omongannya.
”Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran
kompak saja makmum ke Makkah? Maka kita akan melaksanakan shalat Id
bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya pelaksanaannya
kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku
paling jago dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal.
Dan yang penting kita jadi lebih patut karena sebagai umat yang mengaku
paling baik, bisa berlebaran bareng.”
Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan
Kang Ngalwi amat-sangat setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu
tadi, STAIN saja tidak tamat.
Popularity: 5% [?]
15 Sep
Mungkin Sekali Saya Sendiri Juga Maling
Oleh Taufiq Ismail
Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani
hutang dan merayap melata sengsara di dunia. Penganggur 40 juta orang,
anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta
anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus beredar 20 juta
keping, kriminalitas merebat di setiap tikungan jalan dan beban hutang
di bahu 1600 trilyun rupiahnya.
Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor
Pegadaian Jagat Raya, dan di punggung kita dicap sablon besar-besar
Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan
babu, menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.
Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh
harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka
berdukacita karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang
disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri
diperas pula.
Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku. Dulu penjajah
kita satu negara, kini penjajah multi-kolonialis banyak bangsa. Mereka
berdasi sutra, ramah-tamah luarbiasa dan banyak senyumnya. Makin banyak
kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah
dipatahkannya.
Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali. Berbagai format
perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian. Nomor satu
paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji,
adalah industri korupsi.
Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas. Untuk bisa bertahan berakal waras saja di
Indonesia, sudah untung.
Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah. Mereka bersaf-saf
berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’. Begitu rapatnya
mereka berdiri susah engkau menembusnya. Begitu sistematiknya
prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya. Begitu khusyu’nya, engkau
kira mereka beribadah. Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling
yang istiqamah?
Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan
sampai ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah
panjang deretan saf jamaah. Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan
lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah? Bagaimana
menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas
sampai ke bawah? Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari
yang pegang senjata dan yang memerintah.
Bagaimana ini?
Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim
piatu dan sekolahan.
Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana ke mari, kaki kanannya
bersedekah, pergi umrah dan naik haji.
Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak
kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.
Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
Jamaahnya kukuh seperti diding keraton, tak mempan dihantam gempa dan
banjir bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang
undang-undang, penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi
bergantian.
Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan
ribu, barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara
mini, meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif,
legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan
mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya?
Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?
Percuma
Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak
akan terselesaikan.
Jadi, saudaraku, bagaimana caranya? Bagaimana caranya supaya mereka mau
dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia mengembalikan jarahan yang
berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan. Kita doakan
Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka orang
yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.
Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada
hubungan darah atau teman sekolah, maka kita cenderung tutup mata, tak
sampai hati menegurnya.
Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah, kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu
dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan
cipratan harta tanpa ketahuan.
Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati. Dan lihat
kini jendela dan pintu rumah Indonesia dimakan rayap. Kayu kosen,
tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai. Dinding dan langit-
langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap. Tempat tidur dan
lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah
anai-anai.
Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai
habis dikunyah-kunyah rayap. Rumah Indonesia menunggu waktu, masa
rubuhnya yang sempurna.
Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
“Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!” teriak mereka.
“Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.
Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.
Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi.
Mereka menangkapku.
“Ambil bensin!” teriak seseorang.
“Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.
Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara.
****
Popularity: 3% [?]
8 Jun
Untuk jadi bahan renungan …..
Mohon perkenan membaca beberapa cerita nyata berikut
ini. Bersyukurlah saya, kita semua.
“Nikmat Tuhan mana lagi yang akan engkau dustakan”.
(1)
SeKATA
SeKATA. SukarElawan duKA YogyakarTA. Kami tak
siapa-siapa. Hanya orang-orang yang masih punya
tenaga. Ada mahasiswa UGM, UII, UIN.
Mahasiswa Sulawesi Selatan, pegawai Lembaga Ombudsman
Daerah, Indonesian Court Monitoring, Keluarga Alumni
Gadjah Mada (Kagama) dan lain-lain. SeKATA punya cara
kerja sederhana. Mengumpulkan dana dari dermawan,
membelikan sembako di masa tanggap darurat, dan
menyalurkannya ke daerah yang belum tersentuh bantuan
sama sekali.
Semua bergerak dengan sukarela, dengan kerja nyata.
Tanpa banyak kata. Hanya demi korban gempa, ber-Seiya
Sekata, membangun barisan:
SukarElawan duKA YogyakarTA.
****
(2)
Gempa di Negeri Kampung Maling
Pasca gempa Yogya. Dusun Kepek, Jetis, Bantul.
Hadirlah bukti nyata Indonesia, “Negeri Kampung
Maling”. Pencuri mengambil kesempatan di tengah duka
gempa sekalipun.
Malam hari, gelap-gulita. Tak ada listrik, hanya
diterangi cahaya rembulan. Di tengah guyuran lebat
hujan. Di tenda posko yang seadanya.
Meluncurlah pick up bak terbuka. Berkedok seperti para
relawan membawa bantuan. Nyatanya, para relawan
gadungan itu tega, teramat tega.
Mereka tanpa hati mencuri sembilan motor korban gempa
yang sedang diparkir di samping posko bantuan.
“Hanya itu yang tersisa. Kami tak punya apa-apa”.
“Rumah tiada, sanak keluarga menjadi korban. Sekarang
kecurian”.
“Teganya mereka ya Allah”.
Di negeri kampung maling, gempa bukan hanya mengetuk
para relawan, tetapi juga para manusia yang tak punya
perasaan kemanusiaan.
*****
(3)
Kejujuran Kain Kafan
Seorang korban datang dari Klaten. Membawa kabar duka
ke sekian.
Warganya 18 orang menuju sakratul maut. Rumah sakit
sudah menyerah.
Mereka harus siap-siap dengan prosesi pemakaman ke
sekian.
Kain kafan tak tersedia di manapun mata memandang.
Meski demikian, uang 400 ribu diberikan ke seorang
relawan. Misinya: cari kain kafan.
Entah siapa sang relawan, kami pun tak kenal. Yang
jelas dia datang,menyatakan siap bergabung dengan
SeKATA. Dari pagi hingga sore, tak ada kabar.
Bendahara SeKATA mulai gelisah.
Menjelang Maghrib datanglah sang relawan. Membawa
segulung kain kafan.
Dengan muka sumringah.
“saya berputar. Tak ada kafan dimana-mana” .
Akhirnya di daerah Jalan Prambanan km 19 ada Dewa
Tekstil, yang sudah bersiap tutup.
“Mbak saya mau beli kain kafan. Untuk 18 orang korban
gempa”.
“Ambil saja Mas. Gratis”. Ada mata sayu, dan senyum
sendu seiring suara tulus itu.
“Alhamdulillah” .
Lalu sang relawan, masih dengan senyum, merogoh saku
celananya.
Dikeluarkannya uang 400 ribu. Diserahkannya kembali ke
bendahara SekATA.
“Gratis mbak, ini uangnya tidak jadi terpakai”.
Sang bendahara, tersenyum. Masih merasa berdosa,
karena sempat berprasangka buruk.
“Terimakasih mas”.
“Eh, siapa namamu”.
“Aris”.
Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih
ada kejujuran di negeri kampung maling.
Terimakasih Aris.
*****
(4)
Kejujuran Loper Koran
Pasca gempa. Loper koran saya masih rajin berkeliling
dengan sepeda ontelnya.
“Pak, bagaimana kondisi panjenengan” .
“Saya di Bantul Pak. Saya tidak punya rumah lagi.
Rubuh.”
“Hhhhh….turut berduka Pak. Bagaimana keluarga Bapak”
Tak ada sahutan. Hanya matanya mulai berkaca. Diam.
Dan berlalu dengan sepeda ontelnya.
Saya dan istri terdiam. Terpaku.
Esoknya.
“Pak ini ada bantuan sembako. Bapak bawa dan ini
ongkosnya”.
“Jangan Bu…kalau saya terima. Itu hanya untuk saya.
Padahal banyak warga di tempat saya yang membutuhkan.
Ibu bawa bantuan dan uang itu ke lokasi saja. Jangan
diberikan kepada saya”.
Ah…betul-betul air di tengah kemarau. Di tengah
banyak korban berteriak meminta bantuan. Sang loper
koran dengan wajah lugunya, suara seraknya, tetap
bertahan dengan idealisme sederhananya.
Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih
ada kejujuran di negeri kampung maling.
Terimakasih Pak Paijo.
*****
Popularity: 10% [?]
6 Jun
atau Term Of Service dalam bahasa Inggrisnya
karena ada kalimat seperti ini ![]()
ANDA MENGERTI DAN MENYETUJUI BAHWA BILA ANDA DOENLOAD ATAU MENDAPATKAN MATERI ATAU DATA DARI MENGGUNAKAN LAYANAN PENCARIAN GOOGLE DENGAN KEBIJAKAN DAN RESIKO ANDA SENDIRI DAN ANDA BERTANGGUNG JAWAB ATAS KERUSAKAN SISTEM KOMPUTER ANDA ATAU KEHILANGAN DATA YANG BERASAL DARI DOWNLOAD MATERI ATAU DATA TERSEBUT.
BEBERAPA NEGARA BAGIAN ATAU DAERAH-DAERAH KEKUASAAN LAIN TIDAK MEMPERBOLEHKAN PENGECUALIAN ATAS GARANSI YANG DIARTIKAN, JADI PENGECUALIAN-PENGECUALIAN DI ATAS BELUM TENTU BERLAKU PADA ANDA. ANDA MUNGKIN MEMPUNYAI HAK-HAK LAIN YANG BERBEDA DARI NEGARA-NEGARA BAGIAN DAN DAERAH-DAERAH KEKUASAAN YANG SATU DENGAN YANG LAIN.
Batas dari Pertanggungjawaban
gak usah dibaca setuju aja deh!
Beberapa negara bagian tidak memperbolehkan pengecualian atau pembatasan atas kecelakaan atau akibat kerusakan, jadi pembatasan atau pengecualian yang di atas tidak berlaku atas diri anda
Tanpa membatasi yang sebelumnya, tanpa dasar apapun juga Google tidak bertanggung jawab atas adanya penundaan atau kegagalan dalam tindakannya yang disebabkan oleh alam, pemaksaan, atau sebab-sebab yang tidak dapat dicegah langsung atau tidak langsung, termasuk, tanpa batas, matinya internet, matinya alat komputer, matinya alat yang lain, mati listrik, pemogokan, pertikaian buruh, huru-hara, gangguan sipil, kurangnya buruh atau peralatan, kebakaran, banjir, badai, peledakan, atas kehendak Tuhan, perang, tindakan pemerintah,perintah dari pengadilan dalam atau luar negeri, tindakan yang tidak dilakukan oleh pihak ketiga, atau hilangnya/ turunnya fluktuasi panas, sinar, atau pendingin ruangan.
yang aslinya seperti ini
YOU UNDERSTAND AND AGREE THAT YOU DOWNLOAD OR OTHERWISE OBTAIN MATERIAL OR DATA THROUGH THE USE OF THE GOOGLE SERVICES AT YOUR OWN DISCRETION AND RISK AND THAT YOU WILL BE SOLELY RESPONSIBLE FOR ANY DAMAGES TO YOUR COMPUTER SYSTEM OR LOSS OF DATA THAT RESULTS FROM THE DOWNLOAD OF SUCH MATERIAL OR DATA.
SOME STATES OR OTHER JURISDICTIONS DO NOT ALLOW THE EXCLUSION OF IMPLIED WARRANTIES, SO THE ABOVE EXCLUSIONS MAY NOT APPLY TO YOU. YOU MAY ALSO HAVE OTHER RIGHTS THAT VARY FROM STATE TO STATE AND JURISDICTION TO JURISDICTION.
Limitation of LiabilityUNDER NO CIRCUMSTANCES SHALL GOOGLE OR ITS LICENSORS BE LIABLE TO ANY USER ON ACCOUNT OF THAT USER’S USE OR MISUSE OF OR RELIANCE ON THE GOOGLE SERVICES. ARISING FROM ANY CLAIM RELATING TO THIS AGREEMENT OR THE SUBJECT MATTER HEREOF SUCH LIMITATION OF LIABILITY SHALL APPLY TO PREVENT RECOVERY OF DIRECT, INDIRECT, INCIDENTAL, CONSEQUENTIAL, SPECIAL, EXEMPLARY, AND PUNITIVE DAMAGES WHETHER SUCH CLAIM IS BASED ON WARRANTY, CONTRACT, TORT (INCLUDING NEGLIGENCE), OR OTHERWISE, (EVEN IF GOOGLE OR ITS LICENSORS HAVE BEEN ADVISED OF THE POSSIBILITY OF SUCH DAMAGES). SUCH LIMITATION OF LIABILITY SHALL APPLY WHETHER THE DAMAGES ARISE FROM USE OR MISUSE OF AND RELIANCE ON THE GOOGLE SERVICES, FROM INABILITY TO USE THE GOOGLE SERVICES, OR FROM THE INTERRUPTION, SUSPENSION, OR TERMINATION OF THE GOOGLE SERVICES (INCLUDING SUCH DAMAGES INCURRED BY THIRD PARTIES). THIS LIMITATION SHALL ALSO APPLY WITH RESPECT TO DAMAGES INCURRED BY REASON OF OTHER SERVICES OR GOODS RECEIVED THROUGH OR ADVERTISED ON THE GOOGLE SERVICES OR RECEIVED THROUGH ANY LINKS PROVIDED IN THE GOOGLE SERVICES, AS WELL AS BY REASON OF ANY INFORMATION OR ADVICE RECEIVED THROUGH OR ADVERTISED ON THE GOOGLE SERVICES OR RECEIVED THROUGH ANY LINKS PROVIDED IN THE GOOGLE SERVICES. THIS LIMITATION SHALL ALSO APPLY, WITHOUT LIMITATION, TO THE COSTS OF PROCUREMENT OF SUBSTITUTE GOODS OR SERVICES, LOST PROFITS, OR LOST DATA. SUCH LIMITATION SHALL FURTHER APPLY WITH RESPECT TO THE PERFORMANCE OR NON-PERFORMANCE OF THE GOOGLE SERVICES OR ANY INFORMATION OR MERCHANDISE THAT APPEARS ON, OR IS LINKED OR RELATED IN ANY WAY TO, THE GOOGLE SERVICES. SUCH LIMITATION SHALL APPLY NOTWITHSTANDING ANY FAILURE OF ESSENTIAL PURPOSE OF ANY LIMITED REMEDY AND TO THE FULLEST EXTENT PERMITTED BY LAW.
Hayoooo.. sapa nih yg terjemahin.. ![]()
Popularity: 8% [?]
31 May
Sehubungan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006 yang jatuh pada
tanggal 31 Mei 2006, maka kami, penulis blog yang peduli dengan masalah ini,
bermaksud untuk memperingatkan kita semua akan bahaya merokok:
1. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau BERBAHAYA DALAM BENTUK APAPUN.
Rokok, rokok pipa, bidi, kretek, rokok beraroma cengkeh, snus, snuff, rokok
tanpa asap, cerutu… semuanya berbahaya.
2. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau dalam jenis, nama dan rasa apapun
sama bahayanya. Tembakau BERBAHAYA DALAM SAMARAN APAPUN. Mild, light, low tar,
full flavor, fruit flavored, chocolate flavored, natural, additive-free,
organic cigarette, PREPS (Potentially Reduced-Exposure Products),
harm-reduced… semuanya berbahaya. Label-label tersebut TIDAK menunjukkan
bahwa produk-produk yang dimaksud lebih aman dibandingkan produk lain tanpa
label-label tersebut.
3. Menuntut Pemerintah Republik Indonesia untuk sesegera mungkin meratifikasi
WHO Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC) demi kesehatan penerus
bangsa. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani
perjanjian Internasional ini.
Internet, 31 Mei 2006
Tertanda,
Bi[G]
Popularity: 4% [?]
30 May
30 May

Magnitude 5.6 - PAPUA, INDONESIA
| Magnitude | 5.6 (Moderate) |
|---|---|
| Date-Time |
= Coordinated Universal Time = local time at epicenter |
| Location | 3.723°S, 140.127°E |
| Depth | 30 km (18.6 miles) set by location program |
| Region | PAPUA, INDONESIA |
| Distances |
|
| Location Uncertainty | horizontal +/- 8.3 km (5.2 miles); depth fixed by location program |
| Parameters | Nst= 45, Nph= 45, Dmin=998.6 km, Rmss=1 sec, Gp= 50°, M-type=body magnitude (Mb), Version=6 |
| Source |
World Data Center for Seismology, Denver |
| Event ID | usniaf |
Popularity: 4% [?]
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
| By N2H | |||||||||
784
72
22
12
0
489
365
32
6
5
2
2
0
0
0
0
0