Me, MySelf and I
28 Oct
5 Apr
Look.
The people you are after are the people you depend on.
We develop your applications.
We install your servers.
We connect your computers.
We deliver your e-mails.
We guard your network while you sleep
Do not fuck with us.
Hi. You’re going to call off your rigorous investigation. You’re going to publicly state that there is no underground group. Or… these guys are going to take your balls. They’re going to send one to the New York Times, one to the LA Times press-release style. Look, the people you are after are the people you depend on. We cook your meals, we haul your trash, we connect your calls, we drive your ambulances. We guard you while you sleep. Do not fuck with us. [Tyler Durden on Fight Club]
Popularity: 21% [?]
2 Apr
File aslinya ada disini: Radio Elshinta
Berikut ini adalah transkrip yang dikerjakan oleh Mahen dari Kampung Gajah
Transkrip ini masih “raw” dan mungkin masih butuh koreksi
[elshinta] Mas Roy, selamat pagi mas.
[rs] Selamat pagi..
[elshinta] Jadi ada hacker yang membobol situs Departemen Komunikasi dan Informatika ya Mas ya.
[rs] Iya dan, dan, saya nggak perlu ditutup-tutupi, ??? di situs itu ditempelkan wajah saya di situ.
[elshinta] Oh begitu? jadi wajah Mas tuh yang ditempelkan di situ ya?
[rs] Iya, tapi, tapi bodinya lain tuh, lebih bagus, lebih bagus bodinya dia. Hahahahaha. Saya sih, saya sih, terlalu berotot itu. Itu kan, itu kan bodi-nya seorang artis yang waktu itu pernah saya lihat di salah satu majalah yah, kemudian ditempelkan disitu.
Popularity: 23% [?]
30 Aug
S U R A T T E R B U K A
30 Agustus 2007
Blogger Indonesia Menuntut Permohonan Maaf Pemerintah Malaysia
Sehubungan dengan peristiwa pemukulan dan penganiayaan yang terjadi pada Donal Peter Luther Kolopita tanggal 26 Agustus 2007 di Negeri Sembilan oleh segerombolan polisi Kerajaan Malaysia
Mengingat juga bahwa Donal Peter Luther Kolopita hadir di Malaysia sebagai utusan resmi Pemerintah Indonesia atas undangan Kerajaan Malaysia yang karenanya merupakan tamu negara yang seharusnya dihormati.
Memperhatikan bahwa kejadian ini bukanlah yang pertama kali terjadi pada Warga Negara Indonesia di Malaysia tapi sudah pernah terjadi pada banyak orang.
Mengamati bahwa praktek kekerasan oleh aparat pemerintah manapun sudahlah seharusnya tidak pernah terjadi dimanapun dan harus mengikuti prosedur hukum yang berlaku dan benar.
Menyerukan pada Pemerintah Kerajaan Malaysia dengan segala jajaran aparatnya untuk dengan rendah hati MEMINTA MAAF pada seluruh Warga Negara Indonesia, baik yang tinggal di Indonesia maupun yang bekerja di Malaysia atas semua tindakan merendahkan, kekerasan, intimidasi, penggangguan dan penganiayaan yang sudah terjadi selama ini.
Sebagai bangsa yang serumpun, apalagi bertentangga, dengan kaitan sejarah yang panjang sudah tentu hubungan baik antara dua negara dan dan bangsa ini harus dijaga, karena itu kami tekankan sekali lagi bahwa PERMOHONAN MAAF ini sangat penting dan krusial adanya untuk dilakukan sebagai tanda PENYESALAN dan PENGAKUAN bahwa tindakan oknum aparat diatas adalah SALAH dan akan dikenai sangsi sesuai dengan HUKUM yang berlaku.
ttd.
Blogger Se-Indonesia Raya
O P E N L E T T E R T O M A L A Y S I A N G O V E R N M E N T
30 August 2007
Indonesian Bloggers Demand an Apology from the Malaysian Government
Due to the recent brutal attack on Donal Peter Luther Kolopita by the Malaysian Police on August 26th, 2007.
Recall that Mr. Donal Peter Luther Kolopita is an INVITED GUEST of the Malaysian Govt and therefore should have been treated with the utmost respect and dignity.
This is NOT the first time such an event has occurred to an Indonesian citizen in malaysia.
Oppression in any form ontowards private citizens can not and should not be tolerated by any government and that appropriate corrective and preventive measures should be taken.
We demand that the Malaysian Goverment to submit a written and verbal apology to all citizens of Indonesia, residing in Indonesia and elsewhere as well as to all private citizens of the world .
As people of the same race, as well as neighboring countries, and a strong link in history, the amicable relationship between the two countries has to be maintained. Thereby we strongly insist that Malaysia Apologizes dan admits that the actions taken by Malaysia’s police is abominable and intollerable and will be met with the harshesht and strictest application of the law as it stands.
Indonesian Bloggers
Popularity: 11% [?]
24 Oct
*Copy paste dari tempat lain*
Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA tahun ini dan
seterusnya.
Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di
serambi masjid. Saya diajak duduk bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi.
Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan saya
diminta bergabung.
“Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,” kata Fadli
setelah saya duduk.
”Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama,sekitab suci, senabi; tapi
nanti kita akan berlebaran pada hari yang berbeda.
Dikampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari
Selasa.Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?”
Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu
memang terasa tidak bermutu, bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang
merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang Ngalwi
pasti akan digilas dengan jawaban: ”Sudahlah, pokoknya kita hormati
keyakinan masing-masing. Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun
Selasa, semua
baik-baik saja karena keduanya berpegang dengan keyakinan masing-masing,
dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang
mereka ambil.”
Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat Islam.
Namun sebenarnya kearifan tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak
nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di lapisan bawah.
Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin
mewakili perasaan umum masyarakat awam.
Jelasya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang
berbeda hari.
Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah
bertakbir dan masjid kita masih melakukan shalat Tarawih.
Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap
gulai kambing, berpakaian bagus, bergembira ria karena hari Lebaran
sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa.
Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa
diterima oleh teman yang Lebarannya baru besok hari.
”Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab
pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah merenung,” Fadli mengingatkan saya.
”Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama
sering mendengar ceramah yang menyinggung masalah perbedaan hari
Lebaran,”jawab saya.
”Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan
lebih suka Lebaran bareng atau Lebaran sendiri-sendiri?” kejar Fadli.
”Saya lebih suka Lebaran bareng.”
”Kenapa?”
”Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi
masih ada di tengah kita, saya yakin beliau tidak berkenan dengan
Lebaran yang tidak kompak ini.”
”Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak
dalam menentukan hari Lebaran?”
Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan
ditertawakan oleh para alim. Maka saya senang ketika Uun mengambil alih
dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli.
”Begini, Fad,” kata Uun. ”Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin
memang punya dasar berupa dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira,
adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.”
”Memutlakkan bagaimana?”
”Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam
yang amat menjunjung tinggi kebersamaan. Dan membuat umat di bawah
menjadi tidak nyaman.”
”Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam
adalah rahmat.”
”Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan.
Dan saya sangat yakin Kanjeng Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari
Lebaran ini.”
”Kalau begitu kamu punya gasasan apa?”
”Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi,
Fad, kamu jangan kaget: Mari kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui
keputusan politik. Ada beberapa opsi yang ingin saya tawarkan, tapi saya
kemukakan satu saja yang paling sederhana.”
”Lebaran dengan keputusan politik?” tanya Fadli dengan mata melebar.
Terus terang saya dan yang lain juga terkejut.
”Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA
pernah mengambil keputusan politik untuk mengatur suatu ritus ibadah,
dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat Tarawih berjamaah
dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah
itu bukan keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam
waktu itu
melaksanakan shalat Tarawih sendiri-sendiri sehingga di mata beliau
kurang enak dipandang?”
Kecuali Uun yang tertawa-tawa, lainnya jadi memasang wajah serius karena
merasa tersodok oleh pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan,
masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan omongannya.
”Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran
kompak saja makmum ke Makkah? Maka kita akan melaksanakan shalat Id
bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya pelaksanaannya
kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku
paling jago dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal.
Dan yang penting kita jadi lebih patut karena sebagai umat yang mengaku
paling baik, bisa berlebaran bareng.”
Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan
Kang Ngalwi amat-sangat setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu
tadi, STAIN saja tidak tamat.
Popularity: 5% [?]
5 Jun
berikut seperti yg di ceritakan oleh Rony Lantip
Teman-teman mungkin sudah tahu, e-life style kemarin menghadirkan didin (airputih) dan hening (mpbi). Hal yang paling menyesakkan adalah kenyataan bahwa teman-teman yang bergerak di dunia IT ini rata-rata memiliki kelemahan dalam pemilihan bahasa dan bersilat lidah. Kita tahu, atau paling tidak percaya, bahwa teman-teman memiliki nurani yang tulus untuk membantu, tapi mari kita tengok ilustrasi berikut:
Raja Tega Roy Suryo: mediacenter sendiri mendapatkan data darimana mas?
Didin: ya kita tidak langsung ke lapangan, kita memanfaatkan sumber sekunder
Raja Tega Roy Suryo: wah *tersenyum sinis* lantas dimana keakuratannya? Jangan-jangan datanya ngawur kayak BLOGGER-BLOGGER itu
Hening: *tertawa*
Raja Tega Roy Suryo: *tertawa*Aku tahu Hening, sudah lama kami bekerja sama. Aku percaya dia tidak menertawakan blogger ataupun menangkap pernyataan RS, dia tentu menertawakan kegagapan Didin (dalam hal ini kugeneralisir sebagai kegagapan orang IT) dalam menjawab pertanyaan seperti ini. Saya sendiri tidak menyalahkan didin, karena memang kenyataan di lapangan data diambil dengan langkah seperti itu, hanya saja orang seperti Raja Tega Roy Suryo memiliki kelihaian tersendiri dalam menyetir pertanyaan untuk menguntungkan dirinya sendiri. Jalan apapun dia tempuh untuk menggempur kekuatan lain yang tidak dia sukai.
Inti dari postinganku ini hanyalah mengingatkan kepada semuanya saja, fungsi kita adalah fungsi advokasi. Nilainya tentu sama besar dengan pusat data maupun penggalangan bantuan langsung. Enda dengan indonesiahelp misalnya, bisa dijadikan contoh jembatan bantuan masuk ke wilayah Jogja. Airputih juga sudah menorehkan keberhasilan di Aceh maupun di Nias. Tapi dengan pernyataan seperti di atas, melalui media nasional, hal-hal ini menjadi tertutupi.
Catatan saya sendiri, hell with roy suryo! Namun saya menyarankan kita fokus di wilayah advokasi. Advokasi dalam hal ini tentu saja bisa banyak hal, namun yang paling penting kita juga harus aware dengan kemungkinan-kemungkinan ataupun tahapan-tahapan yang tepat. Sebagai contoh saja mengenai bantuan. Misalnya informasi yang kita sebar di media internet mendapat tanggapan dari seluruh dunia, dan masyarakat di luar indonesia tertarik untuk membantu, maka kita bisa arahkan model bantuan yang lebih pas. Selain kebutuhan untuk tahapan rescue, masih ada kebutuhan untuk tahapan rehabilitasi (misalnya saja alat-alat bangunan) sehingga secara tidak langsung kita membantu masyarakat untuk mandiri dan kembali menjalani kehidupannya tanpa selalu tergantung dengan bantuan. Saudara dari Eko Juniarto sudah memilih wilayah advokasi pemulihan melalui ilmu psikologi, menangani trauma masyarakat. Nah, kita tentu juga bisa memilih wilayah yang seperti ini. Ya, ini hanyalah untuk kasus bantu membantu ketika ada bencana seperti sekarang ini. Untuk kasus lain, kita juga tentu bisa berperan lain.
Lantas, pagi ini saya mendapat sms dari heri, untuk membaca KR halaman 2 kolom 7. Dan ternyata RS bahkan sudah kampanye tentang “bahaya”nya permohonan bantuan melalui internet. Satu himbauan yang sepertinya baik, namun itu mematikan keinginan masyarakat untuk bersentuhan dengan dunia yang lebih luas.
Entahlah, saya sedang bingung. Berikut aku sertakan omongan RS di KR.
Popularity: 6% [?]
1 Jun
dapet email dari Eko Juniarto
semoga dapat tersalurkan
dear all,
kakak ipar saya yang juga seorang psikolog anak bersama para psikolog
di jogja ditugaskan untuk mengkoordinasikan program pemulihan trauma
anak2 korban gempa. saat ini, kendalanya adalah kekurangan dana untuk
mulai bergerak, karena saat ini most of the fund ditujukan untuk
keperluan medis dan supply makanan, jadi belum ada yang melirik
pemulihan trauma korban gempa, terutama anak2.kalau ada keinginan menyumbang bisa disalurkan ke
*Haryanto FR, MA, Drs - HIMPSI DIY*
*Taplus no 228.001002186.901 *
*BNI cab. UGM Yogyakarta*bantuan yang diharapkan juga gak harus berjumlah besar kok, yang
penting mereka bisa mulai bergerak sambil menunggu alokasi dana resmi
dari lembaga2 terkait.
Popularity: 8% [?]
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
| By N2H | |||||||||
784
72
22
12
0
489
365
32
6
5
2
2
0
0
0
0
0