Me, MySelf and I
24 Oct
*Copy paste dari tempat lain*
Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA tahun ini dan
seterusnya.
Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di
serambi masjid. Saya diajak duduk bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi.
Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan saya
diminta bergabung.
“Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,” kata Fadli
setelah saya duduk.
”Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama,sekitab suci, senabi; tapi
nanti kita akan berlebaran pada hari yang berbeda.
Dikampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari
Selasa.Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?”
Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu
memang terasa tidak bermutu, bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang
merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang Ngalwi
pasti akan digilas dengan jawaban: ”Sudahlah, pokoknya kita hormati
keyakinan masing-masing. Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun
Selasa, semua
baik-baik saja karena keduanya berpegang dengan keyakinan masing-masing,
dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang
mereka ambil.”
Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat Islam.
Namun sebenarnya kearifan tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak
nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di lapisan bawah.
Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin
mewakili perasaan umum masyarakat awam.
Jelasya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang
berbeda hari.
Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah
bertakbir dan masjid kita masih melakukan shalat Tarawih.
Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap
gulai kambing, berpakaian bagus, bergembira ria karena hari Lebaran
sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa.
Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa
diterima oleh teman yang Lebarannya baru besok hari.
”Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab
pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah merenung,” Fadli mengingatkan saya.
”Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama
sering mendengar ceramah yang menyinggung masalah perbedaan hari
Lebaran,”jawab saya.
”Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan
lebih suka Lebaran bareng atau Lebaran sendiri-sendiri?” kejar Fadli.
”Saya lebih suka Lebaran bareng.”
”Kenapa?”
”Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi
masih ada di tengah kita, saya yakin beliau tidak berkenan dengan
Lebaran yang tidak kompak ini.”
”Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak
dalam menentukan hari Lebaran?”
Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan
ditertawakan oleh para alim. Maka saya senang ketika Uun mengambil alih
dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli.
”Begini, Fad,” kata Uun. ”Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin
memang punya dasar berupa dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira,
adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.”
”Memutlakkan bagaimana?”
”Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam
yang amat menjunjung tinggi kebersamaan. Dan membuat umat di bawah
menjadi tidak nyaman.”
”Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam
adalah rahmat.”
”Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan.
Dan saya sangat yakin Kanjeng Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari
Lebaran ini.”
”Kalau begitu kamu punya gasasan apa?”
”Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi,
Fad, kamu jangan kaget: Mari kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui
keputusan politik. Ada beberapa opsi yang ingin saya tawarkan, tapi saya
kemukakan satu saja yang paling sederhana.”
”Lebaran dengan keputusan politik?” tanya Fadli dengan mata melebar.
Terus terang saya dan yang lain juga terkejut.
”Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA
pernah mengambil keputusan politik untuk mengatur suatu ritus ibadah,
dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat Tarawih berjamaah
dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah
itu bukan keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam
waktu itu
melaksanakan shalat Tarawih sendiri-sendiri sehingga di mata beliau
kurang enak dipandang?”
Kecuali Uun yang tertawa-tawa, lainnya jadi memasang wajah serius karena
merasa tersodok oleh pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan,
masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan omongannya.
”Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran
kompak saja makmum ke Makkah? Maka kita akan melaksanakan shalat Id
bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya pelaksanaannya
kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku
paling jago dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal.
Dan yang penting kita jadi lebih patut karena sebagai umat yang mengaku
paling baik, bisa berlebaran bareng.”
Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan
Kang Ngalwi amat-sangat setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu
tadi, STAIN saja tidak tamat.
Popularity: 5% [?]
8 Jun
Untuk jadi bahan renungan …..
Mohon perkenan membaca beberapa cerita nyata berikut
ini. Bersyukurlah saya, kita semua.
“Nikmat Tuhan mana lagi yang akan engkau dustakan”.
(1)
SeKATA
SeKATA. SukarElawan duKA YogyakarTA. Kami tak
siapa-siapa. Hanya orang-orang yang masih punya
tenaga. Ada mahasiswa UGM, UII, UIN.
Mahasiswa Sulawesi Selatan, pegawai Lembaga Ombudsman
Daerah, Indonesian Court Monitoring, Keluarga Alumni
Gadjah Mada (Kagama) dan lain-lain. SeKATA punya cara
kerja sederhana. Mengumpulkan dana dari dermawan,
membelikan sembako di masa tanggap darurat, dan
menyalurkannya ke daerah yang belum tersentuh bantuan
sama sekali.
Semua bergerak dengan sukarela, dengan kerja nyata.
Tanpa banyak kata. Hanya demi korban gempa, ber-Seiya
Sekata, membangun barisan:
SukarElawan duKA YogyakarTA.
****
(2)
Gempa di Negeri Kampung Maling
Pasca gempa Yogya. Dusun Kepek, Jetis, Bantul.
Hadirlah bukti nyata Indonesia, “Negeri Kampung
Maling”. Pencuri mengambil kesempatan di tengah duka
gempa sekalipun.
Malam hari, gelap-gulita. Tak ada listrik, hanya
diterangi cahaya rembulan. Di tengah guyuran lebat
hujan. Di tenda posko yang seadanya.
Meluncurlah pick up bak terbuka. Berkedok seperti para
relawan membawa bantuan. Nyatanya, para relawan
gadungan itu tega, teramat tega.
Mereka tanpa hati mencuri sembilan motor korban gempa
yang sedang diparkir di samping posko bantuan.
“Hanya itu yang tersisa. Kami tak punya apa-apa”.
“Rumah tiada, sanak keluarga menjadi korban. Sekarang
kecurian”.
“Teganya mereka ya Allah”.
Di negeri kampung maling, gempa bukan hanya mengetuk
para relawan, tetapi juga para manusia yang tak punya
perasaan kemanusiaan.
*****
(3)
Kejujuran Kain Kafan
Seorang korban datang dari Klaten. Membawa kabar duka
ke sekian.
Warganya 18 orang menuju sakratul maut. Rumah sakit
sudah menyerah.
Mereka harus siap-siap dengan prosesi pemakaman ke
sekian.
Kain kafan tak tersedia di manapun mata memandang.
Meski demikian, uang 400 ribu diberikan ke seorang
relawan. Misinya: cari kain kafan.
Entah siapa sang relawan, kami pun tak kenal. Yang
jelas dia datang,menyatakan siap bergabung dengan
SeKATA. Dari pagi hingga sore, tak ada kabar.
Bendahara SeKATA mulai gelisah.
Menjelang Maghrib datanglah sang relawan. Membawa
segulung kain kafan.
Dengan muka sumringah.
“saya berputar. Tak ada kafan dimana-mana” .
Akhirnya di daerah Jalan Prambanan km 19 ada Dewa
Tekstil, yang sudah bersiap tutup.
“Mbak saya mau beli kain kafan. Untuk 18 orang korban
gempa”.
“Ambil saja Mas. Gratis”. Ada mata sayu, dan senyum
sendu seiring suara tulus itu.
“Alhamdulillah” .
Lalu sang relawan, masih dengan senyum, merogoh saku
celananya.
Dikeluarkannya uang 400 ribu. Diserahkannya kembali ke
bendahara SekATA.
“Gratis mbak, ini uangnya tidak jadi terpakai”.
Sang bendahara, tersenyum. Masih merasa berdosa,
karena sempat berprasangka buruk.
“Terimakasih mas”.
“Eh, siapa namamu”.
“Aris”.
Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih
ada kejujuran di negeri kampung maling.
Terimakasih Aris.
*****
(4)
Kejujuran Loper Koran
Pasca gempa. Loper koran saya masih rajin berkeliling
dengan sepeda ontelnya.
“Pak, bagaimana kondisi panjenengan” .
“Saya di Bantul Pak. Saya tidak punya rumah lagi.
Rubuh.”
“Hhhhh….turut berduka Pak. Bagaimana keluarga Bapak”
Tak ada sahutan. Hanya matanya mulai berkaca. Diam.
Dan berlalu dengan sepeda ontelnya.
Saya dan istri terdiam. Terpaku.
Esoknya.
“Pak ini ada bantuan sembako. Bapak bawa dan ini
ongkosnya”.
“Jangan Bu…kalau saya terima. Itu hanya untuk saya.
Padahal banyak warga di tempat saya yang membutuhkan.
Ibu bawa bantuan dan uang itu ke lokasi saja. Jangan
diberikan kepada saya”.
Ah…betul-betul air di tengah kemarau. Di tengah
banyak korban berteriak meminta bantuan. Sang loper
koran dengan wajah lugunya, suara seraknya, tetap
bertahan dengan idealisme sederhananya.
Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih
ada kejujuran di negeri kampung maling.
Terimakasih Pak Paijo.
*****
Popularity: 10% [?]
5 Jun
berikut seperti yg di ceritakan oleh Rony Lantip
Teman-teman mungkin sudah tahu, e-life style kemarin menghadirkan didin (airputih) dan hening (mpbi). Hal yang paling menyesakkan adalah kenyataan bahwa teman-teman yang bergerak di dunia IT ini rata-rata memiliki kelemahan dalam pemilihan bahasa dan bersilat lidah. Kita tahu, atau paling tidak percaya, bahwa teman-teman memiliki nurani yang tulus untuk membantu, tapi mari kita tengok ilustrasi berikut:
Raja Tega Roy Suryo: mediacenter sendiri mendapatkan data darimana mas?
Didin: ya kita tidak langsung ke lapangan, kita memanfaatkan sumber sekunder
Raja Tega Roy Suryo: wah *tersenyum sinis* lantas dimana keakuratannya? Jangan-jangan datanya ngawur kayak BLOGGER-BLOGGER itu
Hening: *tertawa*
Raja Tega Roy Suryo: *tertawa*Aku tahu Hening, sudah lama kami bekerja sama. Aku percaya dia tidak menertawakan blogger ataupun menangkap pernyataan RS, dia tentu menertawakan kegagapan Didin (dalam hal ini kugeneralisir sebagai kegagapan orang IT) dalam menjawab pertanyaan seperti ini. Saya sendiri tidak menyalahkan didin, karena memang kenyataan di lapangan data diambil dengan langkah seperti itu, hanya saja orang seperti Raja Tega Roy Suryo memiliki kelihaian tersendiri dalam menyetir pertanyaan untuk menguntungkan dirinya sendiri. Jalan apapun dia tempuh untuk menggempur kekuatan lain yang tidak dia sukai.
Inti dari postinganku ini hanyalah mengingatkan kepada semuanya saja, fungsi kita adalah fungsi advokasi. Nilainya tentu sama besar dengan pusat data maupun penggalangan bantuan langsung. Enda dengan indonesiahelp misalnya, bisa dijadikan contoh jembatan bantuan masuk ke wilayah Jogja. Airputih juga sudah menorehkan keberhasilan di Aceh maupun di Nias. Tapi dengan pernyataan seperti di atas, melalui media nasional, hal-hal ini menjadi tertutupi.
Catatan saya sendiri, hell with roy suryo! Namun saya menyarankan kita fokus di wilayah advokasi. Advokasi dalam hal ini tentu saja bisa banyak hal, namun yang paling penting kita juga harus aware dengan kemungkinan-kemungkinan ataupun tahapan-tahapan yang tepat. Sebagai contoh saja mengenai bantuan. Misalnya informasi yang kita sebar di media internet mendapat tanggapan dari seluruh dunia, dan masyarakat di luar indonesia tertarik untuk membantu, maka kita bisa arahkan model bantuan yang lebih pas. Selain kebutuhan untuk tahapan rescue, masih ada kebutuhan untuk tahapan rehabilitasi (misalnya saja alat-alat bangunan) sehingga secara tidak langsung kita membantu masyarakat untuk mandiri dan kembali menjalani kehidupannya tanpa selalu tergantung dengan bantuan. Saudara dari Eko Juniarto sudah memilih wilayah advokasi pemulihan melalui ilmu psikologi, menangani trauma masyarakat. Nah, kita tentu juga bisa memilih wilayah yang seperti ini. Ya, ini hanyalah untuk kasus bantu membantu ketika ada bencana seperti sekarang ini. Untuk kasus lain, kita juga tentu bisa berperan lain.
Lantas, pagi ini saya mendapat sms dari heri, untuk membaca KR halaman 2 kolom 7. Dan ternyata RS bahkan sudah kampanye tentang “bahaya”nya permohonan bantuan melalui internet. Satu himbauan yang sepertinya baik, namun itu mematikan keinginan masyarakat untuk bersentuhan dengan dunia yang lebih luas.
Entahlah, saya sedang bingung. Berikut aku sertakan omongan RS di KR.
Popularity: 7% [?]
1 Jun
Berani enggak “gokil” begini  ?
Seorang Polantas menghentikan mobil seorang  pria yang ngebut dengan
kecepatan tinggi menerobos lampu merah, dan bermaksud  menilangnya.
Polantas: “Selamat malam Pak. Tolong lihat  SIM-nya”.
Pria : “Wah, nggak ada Pak. SIM saya sudah dicabut gara-gara  terlalu
sering ditilang”.
Polantas: (Menyeringai) “Oya .? Kalau begitu, Â tolong perlihatkan STNK-nya”.
Pria : “Nggak punya Pak. Soalnya ini bukan  mobil saya. Ini mobil hasil
curian”.
Polantas: “Mobil  curian?”
Pria : “Benar Pak. Tapi, tunggu sebentar. Kalau nggak salah  ingat, saya
lihat ada STNK di kotak perkakas di jok belakang waktu saya  menyimpan
pistol saya di sana”
Polantas: “Hah …? Ada pistol di kotak  perkakas?”
Pria : “Iya Pak. Saya menaruh pistol saya di sana ketika saya  selesai
merampok dan membunuh seorang wanita dan menaruh mayatnya di  bagasi”.
Polantas: “Ada MAYAT di BAGASI ..?”
Pria : (Dengan muka  dingin) “Iya Pak….”.
Mendengar demikian, dengan panik si Polantas menyuruh sang pria untuk
turun sambil menodongkan pistolnya lalu menelepon atasannya yang kemudian
menghubungi Kapolda.
Tidak berapa lama  kemudian, mobil itu segera dikepung oleh mobil-mobil
polisi dan Kapolda  mendekati si pria sambil memintanya untuk tetap
tenang.
Kapolda: “Boleh  saya lihat SIM Anda, Pak ?”
Pria : “Oh, tentu”. (SIM-nya masih berlaku  dan resmi)
Kapolda: “Mobil siapa ini ?”
Pria : “Mobil saya Pak. Â Ini STNK saya”. (Juga masih berlaku)
Kapolda: ” Boleh Anda buka kotak  perkakas dengan perlahan dan tunjukkan
kepada saya pistol Anda di sana ?”
Pria : Â “Tentu saja Pak, tapi tidak ada pistol disana”. (Tentu saja,
memang tidak ada  pistol di sana)
Kapolda: “Hmm.. Kalau begitu, Â boleh tolong buka bagasinya? Saya mendapat
laporan bahwa ada mayat di sana”.
Pria : “Baik  Pak …” (Bagasi dibuka dan memang tidak ada mayat di sana.)
Kapolda: Â “Saya tidak mengerti. Petugas yang menghentikan mobil Bapak
mengatakan bahwa  Bapak tidak mempunyai SIM, mencuri mobil ini, punya
pistol di kotak  perkakas, habis merampok dan membawa mayat di bagasi”.
Pria : “Oh, Â begitukah ceritanya .? Saya yakin si pembohong besar itu
juga mengatakan kepada  Bapak bahwa saya ngebut melanggar lampu merah .”.
*%&$(_!$*%@$^%)(!^)#$+!+&…
Popularity: 5% [?]
1 Jun
dapet email dari Eko Juniarto
semoga dapat tersalurkan
dear all,
kakak ipar saya yang juga seorang psikolog anak bersama para psikolog
di jogja ditugaskan untuk mengkoordinasikan program pemulihan trauma
anak2 korban gempa. saat ini, kendalanya adalah kekurangan dana untuk
mulai bergerak, karena saat ini most of the fund ditujukan untuk
keperluan medis dan supply makanan, jadi belum ada yang melirik
pemulihan trauma korban gempa, terutama anak2.kalau ada keinginan menyumbang bisa disalurkan ke
*Haryanto FR, MA, Drs - HIMPSI DIY*
*Taplus no 228.001002186.901 *
*BNI cab. UGM Yogyakarta*bantuan yang diharapkan juga gak harus berjumlah besar kok, yang
penting mereka bisa mulai bergerak sambil menunggu alokasi dana resmi
dari lembaga2 terkait.
Popularity: 9% [?]
31 May
Sehubungan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006 yang jatuh pada
tanggal 31 Mei 2006, maka kami, penulis blog yang peduli dengan masalah ini,
bermaksud untuk memperingatkan kita semua akan bahaya merokok:
1. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau BERBAHAYA DALAM BENTUK APAPUN.
Rokok, rokok pipa, bidi, kretek, rokok beraroma cengkeh, snus, snuff, rokok
tanpa asap, cerutu… semuanya berbahaya.
2. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau dalam jenis, nama dan rasa apapun
sama bahayanya. Tembakau BERBAHAYA DALAM SAMARAN APAPUN. Mild, light, low tar,
full flavor, fruit flavored, chocolate flavored, natural, additive-free,
organic cigarette, PREPS (Potentially Reduced-Exposure Products),
harm-reduced… semuanya berbahaya. Label-label tersebut TIDAK menunjukkan
bahwa produk-produk yang dimaksud lebih aman dibandingkan produk lain tanpa
label-label tersebut.
3. Menuntut Pemerintah Republik Indonesia untuk sesegera mungkin meratifikasi
WHO Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC) demi kesehatan penerus
bangsa. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani
perjanjian Internasional ini.
Internet, 31 Mei 2006
Tertanda,
Bi[G]
Popularity: 4% [?]
3 May
Dapet email dari dari Milis Id-gmail berita ini..
trus gue inget.. gue kan punya videonya sebelum resmi tayang
gue puter.. cari2x adanya ya seperti ini
hehehe kayaknya sih itu emang kuntilanak …. tapi kuntilanak jadi-jadian
bukan kuntilanak beneran
skrinsut terlampir
video disini
> Beneran nggak sih ???
> =======================================> Dear all,
>
>
> Teman-teman coba dech untuk meluangkan waktu setelah seharian bekerja di
> kantor untuk menyaksikan iklan SCTV “satu untuk semua”. Teman-teman tahu
> khan iklan tersebut ? Yang isinya ada satu keluarga yang sedang
> menyaksikan siaran SCTV, dari musik, telenovela (si Ibu sedih) s/d babak
> terakhir iklan yaitu mereka bersama-sama menari di panggung dengan gaya
> yang sama.
>
>
> Nah pada waktu mereka menari bersama-sama di panggung itulah, coba untuk
> lebih memperhatikan lagi kepada 2 penari yang terdapat di pojok kiri dan
> kanan deretan paling atas, teman-teman pasti akan melihat sesuatu yang
> ganjil / menakutkan / seru, apapun yang nanti akan dikatakan, bahwa memang
> benar yang teman-teman lihat adalah “2 kuntilanak alias wewe alias sundel
> bolong” yang juga ikutan menari bersama mereka dan kebetulan tertangkap
> kamera. Ech ini beneran lho …….. ???!!!!! bukan rekayasa kamera
> (kayak
> iklan aja). Ada yang sudah pernah dengar berita ini sebelumnya di
> infotaiment ?>
>
> Kalau belum pernah dengar saya lanjutkan, bahwa hal ini sudah dikonfirmasi
> oleh PH (Production House) pembuat iklan tersebut di salah satu
> infotaiment, yang mengatakan bahwa pada saat pembuatan iklan / shoting
> tersebut seharusnya tidak ada 2 penari di posisi pojok tersebut alias,
> dengan kata lain bahwa tempat tersebut sebenarnya / aslinya “kosong”.
> Tetapi ternyata setelah disiarkan telah “diisi” oleh 2 mahluk halus yang
> juga sedang ikutan menari di atas panggung. Pembuat iklan tersebut baru
> sadar sekarang setelah sekian lama iklan tersebut ditayangkan secara
> berulang-ulang. Untuk bahan acuan yang kainnya, coba teman-teman juga
> perhatikan cara mereka menari, gayanya berbeda dengan yang lain.> Sedangkan
> yang lain kompak dan seirama, mereka hanya ikutan berputar-putar.
>
> Hanya saja penayangan atas iklan tersebut saat ini sudah sangat-sangat
> susah, sehingga mungkin teman-teman sudah tidak dapat lagi menyaksikannya.
>
> Hal ini terjadi mungkin karena kalayak ramai sudah banyak yang tahu.
> Tetapi teman-teman dapat mencobanya pada malam hari (setelah berita malam
> SCTV - sekita jam 23.00 s/d 24.00). Mudah-mudahan teman-teman masih
> sempat
> merasakan dan menyaksikannya. “Merasakan” karena terus terang saya pada
> waktu melihatnya sempat merinding ……………
>
>
> Nah, bagi yang penasaran selamat mencoba dan menyempatkan untuk
> menyaksikan
> acara iklan SCTV tersebut,
> semoga masih sempat ………
>
>
> Regards,
UPDATED: balesan email…
From: Cecil S. Sasmita
To: Rini Rusli
Sent: Thursday, May 04, 2006 1:09 PM
Subject: Re: Heboh SCTV
Sorry Mbak,aku dah bbrp hari ga buka email.Soalnya lagi ada tugas ke luar kota.Kalo untuk contuinity announcer yang ada gambar hantunya itu benernya memang orang sunguhan pake kostum. Itu konsepnya mengenai gambaran program2 SCTV secara keseluruhan.Ada Gala Hollywood, Gala Bollywood, Gala Mandarin, Program Anak2,dll juga ada sinetron2 misteri. Gitu loh..Jadi memang itu orang pake kostum kok..Untuk mewakili type of program nya SCTV…Jadi bukan hantu beneran loh… He.he.
Thank’s
Cecil
Popularity: 11% [?]
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
| By N2H | |||||||||
783
72
22
12
0
489
363
32
6
5
2
2
0
0
0
0
0