blog.adypermadi.com

Me, MySelf and I

Archive for the ‘x-files’ Category

Aneh Nggak Sih?

Kejadiannya sih barusan nih.. (sekarang udah sampe di rumah)

Pulang kantor sekitar pukul 23.30 dari kantor yg letaknya di Jl. Jend. Gatot Subroto. Pulang ke arah Ciputat.
Biasanya sih dari situ muter balik trus lewat sudirman.
Tapi malem itu sepertinya sepi dan asik nih lewat jalan lain.

Akhirnya ngambil arah mampang, udah sepi sih.. tapi jalannya nggak beraturan aspalnya. Trus belok kanan arah kemang. Lewat kemang kalo malem emang asik.
Sepi, jalannya alus dan, menantang.
Dari kemang keluar trus ke jl benda, jeruk purut, trus abuba, cipete, fatmawati tanpa berhenti dengan kecepatan konstan sekitar 70-80 km/jam.
Duh.. kalo tiap hari gini enak banged nih.
Dari fatmawati trus belok kanan.. arah JIS Pondok Indah, bunderan Pondok Indah, terus Deplu, trus ambil Bintaro Sektor I masuk bintaro raya..
terus sampe sektor 7, keluar nyebrangin tol lewat jembatan terus perempatan Kampung Sawah belok kanan, trus.. terus… wah jalannya mantab deh kalo malem dan sepi.. kalo siang? banyak angkot..
Kecepatan tetep konstan 70-80 km/jam.. dan sering maenin saklar lampu.
Kalo sepi pindah pake lampu jauh, kalau ada kendaraan dari depan kembali lagi ke lampu biasa. Selama perjalanan lampu emang di “cetak-cetek”

sampe deket kompleks rumah, biasanya motong jalan lewat Bukit Nusa Indah
tapi berhubung lagi menikmati perjalanan, dan kondisi setingan motor lagi enak.. tenaga mesin yang standar terasa penuh di setiap putaran mesin (thanks to AHASS HTML, setingannya pas), lanjut jalannya ambil arah pamulang, nggak jadi motong. Agak muter.. ya tapi lagi pengen jalan jadinya asik2x aja.

Di perempatan arah ciputat dan pamulang belok kanan terus.. lanjut.. kecepatan konstan..
nggak lama.. nggak tau di daerah mana.. dimana penerangan jalan tidak terlalu terang dan gue menggunakan lampu jauh. Di kejauhan tampak kendaraan di depan. Otomatis saklar lampu gue pindah ke lampu biasa. Tapi.. loh koq malah gelap? coba di “cetak-cetek” lampu jauh bisa.. balik ke normal nggak bisa. Mati!!. Wah putus lagi nih lampu deketnya pikir gue dalem hati.
Mau pake lampu sore gelapnya minta ampun. Akhirnya diputuskan pake lampu jauh aja. Maap yah.. kendaraan yg dari depan.. silau mungkin.
Ada kali sekitar 10 menit gue pake lampu jauh akhirnya ketemu juga jalan masuk ke komplek. Dari perempatan yg kekiri ke Pamulang II (Pondok Benda) gue ke kanan ke arah Vila Dago Tol.

Nggak sengaja saklar lampu gue teken balik jadi lampu biasa, dan ajaib!!!! nyala tuh lampu deket.. wah.. kenapa tadi nggak bisa?
huahuhauhuah.. sampe sekarang masih kepikiran tuh.
apakah lampu atau kabel2xnya konslet? atau ada sebab lain?

Popularity: 6% [?]

  • 9 Comments
  • Filed under: day by day, x-files
  • *Copy paste dari tempat lain*

    Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA tahun ini dan
    seterusnya.

    Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di
    serambi masjid. Saya diajak duduk bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi.
    Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan saya
    diminta bergabung.

    “Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,” kata Fadli
    setelah saya duduk.
    ”Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama,sekitab suci, senabi; tapi
    nanti kita akan berlebaran pada hari yang berbeda.
    Dikampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari
    Selasa.Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?”

    Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu
    memang terasa tidak bermutu, bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang
    merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang Ngalwi
    pasti akan digilas dengan jawaban: ”Sudahlah, pokoknya kita hormati
    keyakinan masing-masing. Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun
    Selasa, semua
    baik-baik saja karena keduanya berpegang dengan keyakinan masing-masing,
    dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang
    mereka ambil.”

    Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat Islam.
    Namun sebenarnya kearifan tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak
    nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di lapisan bawah.

    Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin
    mewakili perasaan umum masyarakat awam.
    Jelasya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang
    berbeda hari.

    Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah
    bertakbir dan masjid kita masih melakukan shalat Tarawih.

    Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap
    gulai kambing, berpakaian bagus, bergembira ria karena hari Lebaran
    sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa.

    Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa
    diterima oleh teman yang Lebarannya baru besok hari.

    ”Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab
    pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah merenung,” Fadli mengingatkan saya.

    ”Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama
    sering mendengar ceramah yang menyinggung masalah perbedaan hari
    Lebaran,”jawab saya.

    ”Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan
    lebih suka Lebaran bareng atau Lebaran sendiri-sendiri?” kejar Fadli.

    ”Saya lebih suka Lebaran bareng.”
    ”Kenapa?”
    ”Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi
    masih ada di tengah kita, saya yakin beliau tidak berkenan dengan
    Lebaran yang tidak kompak ini.”

    ”Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak
    dalam menentukan hari Lebaran?”

    Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan
    ditertawakan oleh para alim. Maka saya senang ketika Uun mengambil alih
    dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli.

    ”Begini, Fad,” kata Uun. ”Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin
    memang punya dasar berupa dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira,
    adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.”

    ”Memutlakkan bagaimana?”

    ”Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam
    yang amat menjunjung tinggi kebersamaan. Dan membuat umat di bawah
    menjadi tidak nyaman.”

    ”Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam
    adalah rahmat.”

    ”Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan.
    Dan saya sangat yakin Kanjeng Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari
    Lebaran ini.”

    ”Kalau begitu kamu punya gasasan apa?”

    ”Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi,
    Fad, kamu jangan kaget: Mari kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui
    keputusan politik. Ada beberapa opsi yang ingin saya tawarkan, tapi saya
    kemukakan satu saja yang paling sederhana.”

    ”Lebaran dengan keputusan politik?” tanya Fadli dengan mata melebar.
    Terus terang saya dan yang lain juga terkejut.

    ”Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA
    pernah mengambil keputusan politik untuk mengatur suatu ritus ibadah,
    dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat Tarawih berjamaah
    dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah
    itu bukan keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam
    waktu itu
    melaksanakan shalat Tarawih sendiri-sendiri sehingga di mata beliau
    kurang enak dipandang?”

    Kecuali Uun yang tertawa-tawa, lainnya jadi memasang wajah serius karena
    merasa tersodok oleh pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan,
    masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan omongannya.

    ”Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran
    kompak saja makmum ke Makkah? Maka kita akan melaksanakan shalat Id
    bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya pelaksanaannya
    kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku
    paling jago dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal.
    Dan yang penting kita jadi lebih patut karena sebagai umat yang mengaku
    paling baik, bisa berlebaran bareng.”

    Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan
    Kang Ngalwi amat-sangat setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu
    tadi, STAIN saja tidak tamat.

    Popularity: 4% [?]

    Pidato Presiden George W. Bush

    Pidato Presiden George W. Bush

    Sifat : Confidential
    Waktu : Confidential
    Tempat : Confidential

    Ehm ehm…

    Kepada yang terhormat Direktut CIA, FBI, Direktur Bank
    Dunia, ADB, IMF, CEO Haliburton, Exxon Mobil,
    Freeport, Bangkir2 Internasional, Dan semua yang telah
    membantu kami membiayai perang irak, Afganistan, serta
    menyebarluaskan kakuasaan Imperium global, Direktur
    media dan televisi CNN, ABC, NBC, yang telah membantu
    propaganda kita, kami ucapkan terima kasih

    Hari ini adalah hari yang sangat penting karena pada
    hari ini saya akan melaporkan keadaan indonesia,
    yang dulu kita takuti itu, sekarang sama sekali tak berdaya di
    hadapan kita.

    Karena kini tak ada satupun yang perlu kita takutkan
    dari negeri itu, laporan Intelejen mengatakan bahwa
    tak ada satupun bahaya potensial yang akan menggangu
    kepentingan kita di negeri itu.

    Kita tidak perlu takut kepada angkatan bersenjata
    mereka, karena senjata yang mereka gunakan adalah
    kiriman dari negeri kita, lihatlah ketika kita
    jatuhkan embargo senjata, tentara-tentara mereka
    seperti maung ompong ha ha ha ha (penonton tertawa),
    yang lebih lucu lagi kemarin presidennya sendiri yang
    memelas pada kita untuk menghentikan embargo itu ha
    haha. (penonton tertawa).. kasihan-kasihan.

    Tak perlu takut pada generasi mudanya, rupanya faham
    materialisme, budaya konsumtif, hedonisme,
    individualisme, yang kita ajarkan itu lewat
    iklan-iklan kita, tayangan-tanyangan televisi kita,
    film-film kita, propaganda-propaganda kita, sudah
    tertanam pada hati dan pikiran sebagian besar dari
    mereka, jangankan memikirkan negeri atau umatnya
    lebih-lebih agamanya, kini mereka hanya memikirkan
    kesenangan diri mereka sendiri, bayangkan saja Negara
    semiskin itu penduduknya menempati urutan tertinggi
    dalam urusan berbelanja baju ke Singapura, mengalahkan
    jepang, australia, dan cina sekalipun. ha ha ha
    (penonton tertawa ).

    Tak perlu takut tentang pelajar-pelajarnya, karena
    mahasiswa-mahasiswa terbaiknya selalu kita rekrut dan
    kita pekerjakan di perusahaan-perusahaan minyak atau
    tambang kita, dan kita menyuap mereka dengan gaji yang
    besarnya sama dengan loper koran di negeri kita ha ha
    ha. ( penonton tertawa ). Bayangkan orang-orang
    terbaiknya hadirin.

    Tak perlu takut kepada pemimpin politik dan
    pejabatnya, karena sebagian besar dari mereka adalah
    orang yang gila jabatan dan sangat mudah untuk di
    suap, untuk uang dan jabatan, mereka bisa kita minta
    untuk melakukan apa saja sesuai keinginan kita. ha ha
    ha ha ( penonton tertawa ).

    Tunggu,tunggu, Ada kabar yang lebih menggembirakan
    lagi, menurut laporan Intelejen yang saya terima,
    bahwa di sana telah terkotak-kotak menjadi
    banyak kelompok dan golongan. Tiap-tiap kelompok
    menjatuhkan yang lain dan mengganggap kelompoknya yang
    lebih baik dari yang lain, ada bibit kebencian yang
    besar di antara mereka yang dapat kita manfaatkan.
    sangat mudah bagi Intelejen kita yang berpengalaman
    untuk mengadu domba diantara mereka.

    Hutang mereka sudah sangat besar dan hampir mustahil
    bisa mereka bayar, 22% APBN mereka habis untuk
    membayar hutang kepada kita, sehingga mengurangi
    anggaran pendidikan mereka, kesehatan mereka, dan
    pelayanan sosial mereka. Sehingga di negeri itu banyak
    penduduknya yang kelaparan, miskin, sakit dan tak
    mampu berobat, ini merupakan keuntungan bagi kita.
    Karena semakin lama jika kondisi tidak berubah, maka
    akan tercipta generasi yang lemah dari negeri itu.
    Yang tidak akan mampu melawan kita, seperti yang
    selama ini kita harapkan.

    Kekayaan negeri mereka hampir semuanya kita kuasai,
    lebih dari 96 % ladang minyak mereka telah kita
    miliki, tambang batu-bara, tembaga, emas, yang
    beroperasi di negeri itu hampir semuanya adalah milik
    kita. Lebih dari itu mimuman-minuman, makanan-makanan,
    buku-buku, walau banyak yang ngopi, komputer-komputer,
    software-soffware mereka, walau banyak yang ngebajak,
    bahkan odol dan sabun yang mereka gunakan adalah
    produksi perusahaan2 kita. ha ha ha (penonton
    tertawa),

    ….Indonesia merupakan ladang dollar kita yang harus
    tetap kita pertahankan bagaimanapun caranya, 200 juta
    lebih penduduk negari itu merupakan konsumen bagi
    produk-produk perusahaan kita.

    Singkat kata Indonesia telah kalah dari kita baik dari
    segi Ekonomi, militer, politik, budaya,Teknologi, dan
    lain-lain dan lain-lain

    Untuk menjaga agar kondisi ini tetap berlangsung, maka
    saya sarankan agar lebih mengefektifkan promosi budaya
    konsumtif dan hedonisme kepada mereka, kepada
    agen-agen CIA agar memecah belah rakyatnya,
    tebarkan kecurigaan dan fitnah di antara mereka,biar
    mereka terus berkelahi dan tidak punya waktu untuk
    melawan Imperialisme kita, terus rekrut generasi muda
    terbaiknya agar bekerja untuk perusahaan-perusahaan
    kita, sehingga tidak akan banyak gerakan yang
    menentang kita.

    Sebelum mengakhiri pidato ini, saya ucapkan terima
    kasih atas kerja sama yang luar biasa ini, kepada
    seluruh pihak yang telah ikut serta membantu usaha
    kita, perusahaan-perusahaan Multinasional, Televisi
    dan Media masa, Bank Dunia, IMF, CGI, Negara-Negara
    sekutu, Economic Hit Man, Mafia Berkeley, yang
    terhormat pejabat korup indonesia. Dan lain-lain, dan
    lain-lain.

    Sekian dan terima kasih.

    President USA
    George W. Bush

    NB; sifat sangat rahasia, boleh di buka kepada public
    25 tahun yang akan datang.

    Sumber : Confidential

    Popularity: 7% [?]

  • 6 Comments
  • Filed under: x-files
  • TIPS MENGHADAPI POLANTAS

    Berani enggak “gokil” begini   ?

    Seorang Polantas menghentikan mobil seorang   pria yang ngebut dengan
    kecepatan tinggi menerobos lampu merah, dan bermaksud   menilangnya.

    Polantas: “Selamat malam Pak. Tolong lihat   SIM-nya”.

    Pria : “Wah, nggak ada Pak. SIM saya sudah dicabut gara-gara   terlalu
    sering ditilang”.

    Polantas: (Menyeringai) “Oya .? Kalau begitu,   tolong perlihatkan STNK-nya”.

    Pria : “Nggak punya Pak. Soalnya ini bukan   mobil saya. Ini mobil hasil
    curian”.

    Polantas: “Mobil   curian?”

    Pria : “Benar Pak. Tapi, tunggu sebentar. Kalau nggak salah   ingat, saya
    lihat ada STNK di kotak perkakas di jok belakang waktu saya   menyimpan
    pistol saya di sana”

    Polantas: “Hah …? Ada pistol di kotak   perkakas?”

    Pria : “Iya Pak. Saya menaruh pistol saya di sana ketika saya   selesai
    merampok dan membunuh seorang wanita dan menaruh mayatnya di   bagasi”.

    Polantas: “Ada MAYAT di BAGASI ..?”

    Pria : (Dengan muka   dingin) “Iya Pak….”.

    Mendengar demikian, dengan panik si Polantas menyuruh sang pria untuk
    turun sambil menodongkan pistolnya lalu menelepon atasannya yang kemudian
    menghubungi Kapolda.

    Tidak berapa lama   kemudian, mobil itu segera dikepung oleh mobil-mobil
    polisi dan Kapolda   mendekati si pria sambil memintanya untuk tetap
    tenang.

    Kapolda: “Boleh   saya lihat SIM Anda, Pak ?”

    Pria : “Oh, tentu”. (SIM-nya masih berlaku   dan resmi)

    Kapolda: “Mobil siapa ini ?”

    Pria : “Mobil saya Pak.   Ini STNK saya”. (Juga masih berlaku)

    Kapolda: ” Boleh Anda buka kotak   perkakas dengan perlahan dan tunjukkan
    kepada saya pistol Anda di sana ?”

    Pria :   “Tentu saja Pak, tapi tidak ada pistol disana”. (Tentu saja,
    memang tidak ada   pistol di sana)

    Kapolda: “Hmm.. Kalau begitu,   boleh tolong buka bagasinya? Saya mendapat
    laporan bahwa ada mayat di sana”.

    Pria : “Baik   Pak …” (Bagasi dibuka dan memang tidak ada mayat di sana.)

    Kapolda:   “Saya tidak mengerti. Petugas yang menghentikan mobil Bapak
    mengatakan bahwa   Bapak tidak mempunyai SIM, mencuri mobil ini, punya
    pistol di kotak   perkakas, habis merampok dan membawa mayat di bagasi”.

    Pria : “Oh,   begitukah ceritanya .? Saya yakin si pembohong besar itu
    juga mengatakan kepada   Bapak bahwa saya ngebut melanggar lampu merah .”.

    *%&$(_!$*%@$^%)(!^)#$+!+&…

    Popularity: 5% [?]

    This post is password protected. To view it please enter your password below:


    Popularity: 2% [?]

  • Enter your password to view comments
  • Filed under: x-files
  • Playboy dan Dunia yang Tercengang

    Dikutip dari sebuah kampung… bagus juga buat bahan pemikiran dan pembandingan..
    dikampung itu sendiri entah dikutip dari mana..

    ———————————————————————————————————————-

    ”Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia mulai mengedarkan Playboy, sebuah majalah porno asal Amerika,” bunyi teras berita harian Al Rayah, Qatar, pekan lalu. Judul yang dipampangnya pun bombastis, ”Negeri Muslim Terbesar di Dunia Terbitkan Majalah Playboy.”

    M A L A Y S I A

    ”Kita tidak akan menoleransi siapa pun yang mencoba menyelundupkan Playboy Indonesia ke sini,”
    maksimum 20 ribu ringgit, dan atau hukuman maksimal tiga tahun untuk para penyelundup Playboy atau barang berbau pornografi lainnya.

    Bea dan Cukai negara itu memberlakukan pemeriksaan ketat terhadap para pendatang dari Indonesia. Tidak hanya orang Indonesia, tetapi terutama warga Malaysia yang baru pulang dari Indonesia.

    Playboy versi Indonesia KECERDIKAN GAYA LAMA saat ini sedang berselimut, sebelum membuka jati diri pada saatnya kelak.

    Sehari setelah Playboy Indonesia terbit, Sabtu (8/4) lalu Hugh Hefner, pendiri ‘kerajaan’ Playboy itu, berulang tahun ke-80. Bertelekan pada sofa berlapis bulu tebal, dikelilingi ratusan model yang hanya berbalut bikini (BH), sementara sampanye dan kaviar tak henti mengaliri tenggorokan, Hefner terlihat sangat bungah di mansion bergaya Gothiknya di Los Angeles, Amerika Serikat.

    Tentu bukan karena seorang gadis pirang membantunya memotong kue dan menyuapinya sepotong demi sepotong. Prosesi itu pasti terlalu lumrah, bahkan membosankan, di usianya yang menginjak delapan dekade. Ada hal lain yang seharusnya membuat kakek berpiyama sutra itu bergirang hati.

    Benar atau tidak, yang pasti pada ulang tahun ke-80 itu Hefner memperoleh ‘kado istimewa’, persembahan Erwin Arnada dan kawan-kawan dari Indonesia. Hefner sangat layak bergembira. Revolusi seks yang dipeloporinya sejak 1950-an, berhasil menaklukkan Indonesia, salah satu negeri Muslim terbesar di dunia.

    Bukankah kini Hefner, dalam usia yang secara logika telah di rembang petang, bisa menyatakan diri sukses membuat gaya hidupnya menjadi universal, merambah hingga pojok-pojok dunia yang tadinya dianggap paling musykil sekalipun? Siapa akan membantah, keberhasilan Playboy terbit di Indonesia — meski dengan kemasan tak terlalu vulgar — merupakan sukses besar bagi imperium bisnis Playboy.

    ”Ini merupakan momen spesial, karena ultah ke-80,” kata Hefner dalam sebuah wawancara televisi. Meski tak menyebut Indonesia, Hefner menambahkan, ”Saya tidak pernah merasa sebaik ini.”

    Wajar saja, karena mungkin ‘Mr Playboy’ merasa menemukan tempat untuk memulai eksperimen baru. Sebagaimana dikutip AFP yang meliput pesta semalam suntuk itu, Hefner memang telah menggerakkan perubahan baru di masyarakat Barat. Betapa permisivitas, keserbabolehan, telah dimulai ketika pemuda Hugh Hefner merancang majalah pertamanya itu pada 1953. Setelah itu, revolusi seks pun bergulir tak tertahan, bahkan tidak terduga oleh Hefner.

    ”Ada tiga penemuan besar dalam sejarah kemanusiaan,” kata Hefner, suatu kali. ”Penemuan api, roda, dan …Playboy,” katanya, setengah berkelakar.

    Di lain pihak, wajar pula jika dunia Islam — bukan hanya Indonesia — tercengang dengan lolosnya Playboy di negeri ini. ”Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia mulai mengedarkan Playboy, sebuah majalah porno asal Amerika,” bunyi teras berita harian Al Rayah, Qatar, pekan lalu. Judul yang dipampangnya pun bombastis, ”Negeri Muslim Terbesar di Dunia Terbitkan Majalah Playboy.”

    Sementara, situs harian Arab Saudi, Al Watan, menulis dengan judul lain, ”Banyak Protes Atas Penerbitan Playboy Indonesia”. Tetapi, intinya tetap bernada cemas. Lihat saja mereka menulis, ”Dikhawatirkan majalah porno itu akan berkembang sebagaimana di negara asalnya, meski pada edisi pertama Indonesia itu tidak terdapat gambar telanjang,” tulis Al Watan. Kekhawatiran itu juga tecermin di harian Jordania, Al Ra’yu. ”Edisi pertama itu memang tidak memuat gambar porno. Tetapi, semua tahu itu majalah porno. Langkah sengaja pada edisi pertama itu tampak merupakan kecerdikan penerbitnya,” tulis Al Ra’yu.

    Kekhawatiran itu bahkan telah merebak ke negara tetangga, Malaysia. Hanya sehari setelah terbitnya Playboy di Indonesia, pihak Bea dan Cukai negara itu memberlakukan pemeriksaan ketat terhadap para pendatang dari Indonesia. Tidak hanya orang Indonesia, tetapi terutama warga Malaysia yang baru pulang dari Indonesia.

    ”Kita tidak akan menoleransi siapa pun yang mencoba menyelundupkan Playboy Indonesia ke sini,” kata Dirjen Bea Cukai Malaysia (KDRM), Datuk Abdul Rahman Abdul Hamid. Abdul Rahman berjanji, pihaknya akan menerapkan hukuman berat, berupa denda maksimum 20 ribu ringgit, dan atau hukuman maksimal tiga tahun untuk para penyelundup Playboy atau barang berbau pornografi lainnya.

    Ia juga menyatakan, pemeriksaan ketat itu diberlakukan pada setiap pintu masuk menuju Malaysia, antara lain, Bandara Internasional Kuala Lumpur, Bandara Bayan Lepas, Pulau Pinang, serta Bandara Sutan Ismail di Senai, Johor. Bagi pendatang lewat laut, mereka akan diperiksa di Pelabuhan Malaka, Pelabuhan Stulang, Johor, serta semua pelabuhan yang ada.

    Layakkah kekhawatiran itu? Di luar pemeriksaan ketat, praktisi media senior, Farid Gaban, menyepakati hal tersebut. Farid, yang gigih mempertahankan sikapnya bahwa Playboy tidak hanya sebuah majalah, melainkan gaya hidup, juga mempertanyakan keistimewaan yang diperoleh Playboy Indonesia untuk ‘tampil lain’.

    ”Membeli franchise sebuah majalah asing, setahu saya, tidak semata membeli brand tapi juga serangkaian standard operating procedure (SOP): tata cara beroperasi secara bisnis, dalam pemasaran, penyajian, bahkan dalam keseluruhan corporate culture,” tulis Farid dalam sebuah polemik di dunia maya. Hal itu, menurutnya, berlaku sebagaimana McDonald’s, Starbucks, atau National Geographics Indonesia.

    Jadi, menurut Farid, bagaimana Playboy Indonesia bisa demikian istimewa untuk keluar dari corporate culture Playboy, seperti tecermin dari pesta ulang tahun Hefner tadi?

    Atau, benar sebagaimana kekhawatiran banyak pihak. Playboy versi Indonesia saat ini sedang berselimut, sebelum membuka jati diri pada saatnya kelak.

    Popularity: 6% [?]

  • 8 Comments
  • Filed under: id-gmail, x-files
  • Watch out what you think!!!

    it’s scared if it’s true..

    Popularity: 2% [?]

  • 1 Comment
  • Filed under: brain, x-files
  • True friends stab you in the front

    Oscar Wilde“True friends stab you in the front.” -
    Oscar Wilde

    kenapa gue suka banged sama quote yang satu ini yah?

    Popularity: 6% [?]

  • 1 Comment
  • Filed under: day by day, x-files
  • "Kebesaran seseorang tidak terlihat ketika ia berdiri dan memberi perintah, tetapi ketika ia berdiri sama tinggi dengan orang lain dan membantu orang lain untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka guna mencapai sukses..."

    Photos

    P6020371Picture 219Picture 218Picture 190Picture 189P6020390P6020375P6020374P6020373P6020372P6020371P6020370

    Categories

    Calendar

    October 2008
    M T W T F S S
    « Sep    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

    Stats:

    • Posts 142
    • Comments 888
    • Tags 57
    • Categories 20
    • Words in Posts 64,622
    • Words in Comments 31,849

    BlogRoll


    Loved One


    Prends


    Seruangan


    Archives


    Meta


      Writing

      205 articles
      975 comments

        Comments

        platform
        822 
        72 
        22 
        12 


        browsers
        483
        414
        33
        6
        6
        2
        0
        0
        0
        0