Me, MySelf and I
1 Nov
– A boss creates fear, a leader confidence. A boss fixes blame, a leader corrects mistakes. A boss knows all, a leader asks questions. A boss makes work drudgery, a leader makes it interesting. A boss is interested in himself or herself, a leader is interested in the group.|Ewing, Russel H.
*abis ngeliat signature seseorang di milis*
Popularity: 2% [?]
24 Oct
*Copy paste dari tempat lain*
Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA tahun ini dan
seterusnya.
Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di
serambi masjid. Saya diajak duduk bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi.
Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan saya
diminta bergabung.
“Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,” kata Fadli
setelah saya duduk.
”Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama,sekitab suci, senabi; tapi
nanti kita akan berlebaran pada hari yang berbeda.
Dikampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari
Selasa.Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?”
Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu
memang terasa tidak bermutu, bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang
merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang Ngalwi
pasti akan digilas dengan jawaban: ”Sudahlah, pokoknya kita hormati
keyakinan masing-masing. Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun
Selasa, semua
baik-baik saja karena keduanya berpegang dengan keyakinan masing-masing,
dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang
mereka ambil.”
Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat Islam.
Namun sebenarnya kearifan tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak
nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di lapisan bawah.
Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin
mewakili perasaan umum masyarakat awam.
Jelasya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang
berbeda hari.
Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah
bertakbir dan masjid kita masih melakukan shalat Tarawih.
Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap
gulai kambing, berpakaian bagus, bergembira ria karena hari Lebaran
sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa.
Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa
diterima oleh teman yang Lebarannya baru besok hari.
”Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab
pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah merenung,” Fadli mengingatkan saya.
”Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama
sering mendengar ceramah yang menyinggung masalah perbedaan hari
Lebaran,”jawab saya.
”Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan
lebih suka Lebaran bareng atau Lebaran sendiri-sendiri?” kejar Fadli.
”Saya lebih suka Lebaran bareng.”
”Kenapa?”
”Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi
masih ada di tengah kita, saya yakin beliau tidak berkenan dengan
Lebaran yang tidak kompak ini.”
”Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak
dalam menentukan hari Lebaran?”
Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan
ditertawakan oleh para alim. Maka saya senang ketika Uun mengambil alih
dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli.
”Begini, Fad,” kata Uun. ”Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin
memang punya dasar berupa dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira,
adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.”
”Memutlakkan bagaimana?”
”Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam
yang amat menjunjung tinggi kebersamaan. Dan membuat umat di bawah
menjadi tidak nyaman.”
”Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam
adalah rahmat.”
”Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan.
Dan saya sangat yakin Kanjeng Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari
Lebaran ini.”
”Kalau begitu kamu punya gasasan apa?”
”Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi,
Fad, kamu jangan kaget: Mari kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui
keputusan politik. Ada beberapa opsi yang ingin saya tawarkan, tapi saya
kemukakan satu saja yang paling sederhana.”
”Lebaran dengan keputusan politik?” tanya Fadli dengan mata melebar.
Terus terang saya dan yang lain juga terkejut.
”Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA
pernah mengambil keputusan politik untuk mengatur suatu ritus ibadah,
dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat Tarawih berjamaah
dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah
itu bukan keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam
waktu itu
melaksanakan shalat Tarawih sendiri-sendiri sehingga di mata beliau
kurang enak dipandang?”
Kecuali Uun yang tertawa-tawa, lainnya jadi memasang wajah serius karena
merasa tersodok oleh pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan,
masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan omongannya.
”Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran
kompak saja makmum ke Makkah? Maka kita akan melaksanakan shalat Id
bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya pelaksanaannya
kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku
paling jago dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal.
Dan yang penting kita jadi lebih patut karena sebagai umat yang mengaku
paling baik, bisa berlebaran bareng.”
Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan
Kang Ngalwi amat-sangat setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu
tadi, STAIN saja tidak tamat.
Popularity: 4% [?]
15 Sep
Mungkin Sekali Saya Sendiri Juga Maling
Oleh Taufiq Ismail
Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani
hutang dan merayap melata sengsara di dunia. Penganggur 40 juta orang,
anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta
anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus beredar 20 juta
keping, kriminalitas merebat di setiap tikungan jalan dan beban hutang
di bahu 1600 trilyun rupiahnya.
Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor
Pegadaian Jagat Raya, dan di punggung kita dicap sablon besar-besar
Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan
babu, menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.
Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh
harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka
berdukacita karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang
disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri
diperas pula.
Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku. Dulu penjajah
kita satu negara, kini penjajah multi-kolonialis banyak bangsa. Mereka
berdasi sutra, ramah-tamah luarbiasa dan banyak senyumnya. Makin banyak
kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah
dipatahkannya.
Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali. Berbagai format
perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian. Nomor satu
paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji,
adalah industri korupsi.
Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas. Untuk bisa bertahan berakal waras saja di
Indonesia, sudah untung.
Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah. Mereka bersaf-saf
berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’. Begitu rapatnya
mereka berdiri susah engkau menembusnya. Begitu sistematiknya
prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya. Begitu khusyu’nya, engkau
kira mereka beribadah. Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling
yang istiqamah?
Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan
sampai ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah
panjang deretan saf jamaah. Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan
lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah? Bagaimana
menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas
sampai ke bawah? Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari
yang pegang senjata dan yang memerintah.
Bagaimana ini?
Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim
piatu dan sekolahan.
Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana ke mari, kaki kanannya
bersedekah, pergi umrah dan naik haji.
Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak
kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.
Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
Jamaahnya kukuh seperti diding keraton, tak mempan dihantam gempa dan
banjir bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang
undang-undang, penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi
bergantian.
Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan
ribu, barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara
mini, meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif,
legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan
mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya?
Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?
Percuma
Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak
akan terselesaikan.
Jadi, saudaraku, bagaimana caranya? Bagaimana caranya supaya mereka mau
dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia mengembalikan jarahan yang
berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan. Kita doakan
Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka orang
yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.
Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada
hubungan darah atau teman sekolah, maka kita cenderung tutup mata, tak
sampai hati menegurnya.
Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah, kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu
dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan
cipratan harta tanpa ketahuan.
Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati. Dan lihat
kini jendela dan pintu rumah Indonesia dimakan rayap. Kayu kosen,
tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai. Dinding dan langit-
langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap. Tempat tidur dan
lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah
anai-anai.
Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai
habis dikunyah-kunyah rayap. Rumah Indonesia menunggu waktu, masa
rubuhnya yang sempurna.
Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
“Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!” teriak mereka.
“Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.
Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.
Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi.
Mereka menangkapku.
“Ambil bensin!” teriak seseorang.
“Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.
Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara.
****
Popularity: 2% [?]
7 Jul
yak.. sampai di batam pkl 17.15, sempet bingung karena ternyata si tuan rumah mendadak ada tugas ke Jakarta, tadinya ada plan untuk nyebrang ke SG malam itu juga, tapi pertimbangan karena ada si kecil paling nggak harus stay di Batam dulu malam itu.
Tapi untung ternyata si tuan rumah telah mengutus suaminya untuk menjemput kita. Syukurlah nggak perlu check in di Hotel. Habis itu langsung menuju Batam Center Mall, untuk mencari tiket kapal laut cepat ke SG, dan sekalian ibu2x darma wanita mencari minyak wangi, katanya sih murah-murah disitu. Terus terang gue nggak tertarik.
Secara gue mencari MMC ataw SD card untuk camera gue yg ternyata udah full. Tanya2x ternyata harga nggak jauh dari Jakarta, dan di SG kabarnya lebih murah. Ya udah akhirnya jalan2x aja sama si kecil. Tiket kapal laut cepat pun “Wavemaster” banyak dijual disana sekitaran S$13.50 untuk sekali jalan atau S$14.00 untuk pulang pergi. Yah.. sangat beruntung bagi yang ingin pulang pergi dari batam ke SG. Secara kalau beli tiket di lokasi penyebrangannya langsung harga S$15 untuk pulang pergi. Sukur pula ternyata ibunya yang punya rumah sudah beli tiket sebanyak 10 buah, untuk stok katanya. Tapipun beli 10 buah itu masih dapat bonus 3 buah tiket. Ya.. lagi2x beruntung jikalau belinya banyak.
Akhirnya sekitar pkl 19.00 tiba dirumah si tuan rumah di daerah Baloi (CMMIW - lupa). Sebelum sampai disitu melewati apa yang disebut “Bukit Telkomsel”, hehhehe.. karena ada bukit tertinggi dan ada “Neon Sign” besar TELKOMSEL - bukan spam - di bukit tsb, seperti tulisan “Holywood” di Holywood sana.
Setelah basa-basi.. dan sedikit membersihkan diri, rencananya ingin makan di luar. Tapi dilihat dari kondisi si kecil sepertinya sudah lelah dan mengantuk. Akhirnya kita cuman keliling Kota Batam saja mengendarai mobil, dan berhenti sebentar di Money Changer untuk menukarkan uang dengan S$. Seperti yang tertera pada judul dilihat-lihat Kota Batam itu, setelah keliling2x ternyata banyak sekali rukonya. Oh iya sebelumnya kita sempat naik ke “Bukit Telkomsel” yag diatas sana sudah berdiri sebuah hotel yang bernama Hotel Vista (kalo dijakarta kayak nama karaoke keluarga
). Dari atas bukit tersebut terlihatlah Kota Batam diwaktu malam dengan kerlap-kerlipnya dan nun jauh disana di seberang laut terlihat kerlap-kerlip dari Kota SG. Setelah foto2x sebentar, tak lama kemudian langsung cabut jalan lagi.
Sampai dirumah mandi dan langsung tidur, pada pukul 1.30 dinihari ternyata suaminya tuan rumah bangun, saya juga bangun karena terdengar suara alarm handphone. Oh iya malam itu Portugal dan Perancis bertarung di lapangan sepakbola
.
Karena lelah gue hanya sedikit2x memicingkan mata untuk melirik TV yang ada di depan gue, selebihnya tidur. Tapi gue lihat koq tendangan penalti oleh Zidane yang membuat Perancis masuk final. Abis itu tidur lagi. ![]()
Popularity: 7% [?]
7 Jul
Yak, perjalanan dimulai hari rabu pukul 15.05, yang seharusnya hari kamis pagi. Dikarenakan pesawat Air Asia yang seharusnya terbang ternyata “masuk bengkel” padahal ticketnya sudah di order dari kapan tau. Ada dua pilihan berangkat lebih siang, sekitar jam 11-an atau maju di hari rabu pukul 15.05. Pilihan ternyata jatuh pada rabu pkl. 15.05 tetap pakai Air Asia dan tetap tujuan Batam seperti semula, untung aja gue udah ngambil cuti dari hari rabu.
Tetapi ternyata saat keberangkatan pun ternyata tertunda, pesawatnya delay 30 menit. “Ahak-ahak…. endonesia… endonesia.. kalo nggak delay bukan pesawat endonesia namanya..
“.
Rombongan bertambah 1 orang menjadi 4 orang dewasa dan 1 anak kecil, yang tadinya hanya 3 orang dewasa dan 1 anak kecil, dikarenakan temannya adiknya henny ikut bergabung. Rombongan awalnya sendiri tadinya gue, henny, adiknya henny dan aurell.
secara (heh?!) tujuan sebenernya adalah kotanya si merlion, SG. Mo lewat batam selain fiskalnya - fiskal sux!!! (kayak yg sering bayar fiskal aje yeee..
- red) - lebih murah, sekalian pengen liat2x kota batam. eh.. tiket air asianya juga murah deng
.
Di batam sendiri rencananya akan bermalam di tempat tinggal temannya adiknya henny. Secara sih sebenernya bisa aja tinggal di hotel, tapi ya wislah.
Popularity: 4% [?]
15 Jun
Pidato Presiden George W. Bush
Sifat : Confidential
Waktu : Confidential
Tempat : ConfidentialEhm ehm…
Kepada yang terhormat Direktut CIA, FBI, Direktur Bank
Dunia, ADB, IMF, CEO Haliburton, Exxon Mobil,
Freeport, Bangkir2 Internasional, Dan semua yang telah
membantu kami membiayai perang irak, Afganistan, serta
menyebarluaskan kakuasaan Imperium global, Direktur
media dan televisi CNN, ABC, NBC, yang telah membantu
propaganda kita, kami ucapkan terima kasihHari ini adalah hari yang sangat penting karena pada
hari ini saya akan melaporkan keadaan indonesia,
yang dulu kita takuti itu, sekarang sama sekali tak berdaya di
hadapan kita.Karena kini tak ada satupun yang perlu kita takutkan
dari negeri itu, laporan Intelejen mengatakan bahwa
tak ada satupun bahaya potensial yang akan menggangu
kepentingan kita di negeri itu.Kita tidak perlu takut kepada angkatan bersenjata
mereka, karena senjata yang mereka gunakan adalah
kiriman dari negeri kita, lihatlah ketika kita
jatuhkan embargo senjata, tentara-tentara mereka
seperti maung ompong ha ha ha ha (penonton tertawa),
yang lebih lucu lagi kemarin presidennya sendiri yang
memelas pada kita untuk menghentikan embargo itu ha
haha. (penonton tertawa).. kasihan-kasihan.Tak perlu takut pada generasi mudanya, rupanya faham
materialisme, budaya konsumtif, hedonisme,
individualisme, yang kita ajarkan itu lewat
iklan-iklan kita, tayangan-tanyangan televisi kita,
film-film kita, propaganda-propaganda kita, sudah
tertanam pada hati dan pikiran sebagian besar dari
mereka, jangankan memikirkan negeri atau umatnya
lebih-lebih agamanya, kini mereka hanya memikirkan
kesenangan diri mereka sendiri, bayangkan saja Negara
semiskin itu penduduknya menempati urutan tertinggi
dalam urusan berbelanja baju ke Singapura, mengalahkan
jepang, australia, dan cina sekalipun. ha ha ha
(penonton tertawa ).Tak perlu takut tentang pelajar-pelajarnya, karena
mahasiswa-mahasiswa terbaiknya selalu kita rekrut dan
kita pekerjakan di perusahaan-perusahaan minyak atau
tambang kita, dan kita menyuap mereka dengan gaji yang
besarnya sama dengan loper koran di negeri kita ha ha
ha. ( penonton tertawa ). Bayangkan orang-orang
terbaiknya hadirin.Tak perlu takut kepada pemimpin politik dan
pejabatnya, karena sebagian besar dari mereka adalah
orang yang gila jabatan dan sangat mudah untuk di
suap, untuk uang dan jabatan, mereka bisa kita minta
untuk melakukan apa saja sesuai keinginan kita. ha ha
ha ha ( penonton tertawa ).Tunggu,tunggu, Ada kabar yang lebih menggembirakan
lagi, menurut laporan Intelejen yang saya terima,
bahwa di sana telah terkotak-kotak menjadi
banyak kelompok dan golongan. Tiap-tiap kelompok
menjatuhkan yang lain dan mengganggap kelompoknya yang
lebih baik dari yang lain, ada bibit kebencian yang
besar di antara mereka yang dapat kita manfaatkan.
sangat mudah bagi Intelejen kita yang berpengalaman
untuk mengadu domba diantara mereka.Hutang mereka sudah sangat besar dan hampir mustahil
bisa mereka bayar, 22% APBN mereka habis untuk
membayar hutang kepada kita, sehingga mengurangi
anggaran pendidikan mereka, kesehatan mereka, dan
pelayanan sosial mereka. Sehingga di negeri itu banyak
penduduknya yang kelaparan, miskin, sakit dan tak
mampu berobat, ini merupakan keuntungan bagi kita.
Karena semakin lama jika kondisi tidak berubah, maka
akan tercipta generasi yang lemah dari negeri itu.
Yang tidak akan mampu melawan kita, seperti yang
selama ini kita harapkan.Kekayaan negeri mereka hampir semuanya kita kuasai,
lebih dari 96 % ladang minyak mereka telah kita
miliki, tambang batu-bara, tembaga, emas, yang
beroperasi di negeri itu hampir semuanya adalah milik
kita. Lebih dari itu mimuman-minuman, makanan-makanan,
buku-buku, walau banyak yang ngopi, komputer-komputer,
software-soffware mereka, walau banyak yang ngebajak,
bahkan odol dan sabun yang mereka gunakan adalah
produksi perusahaan2 kita. ha ha ha (penonton
tertawa),….Indonesia merupakan ladang dollar kita yang harus
tetap kita pertahankan bagaimanapun caranya, 200 juta
lebih penduduk negari itu merupakan konsumen bagi
produk-produk perusahaan kita.Singkat kata Indonesia telah kalah dari kita baik dari
segi Ekonomi, militer, politik, budaya,Teknologi, dan
lain-lain dan lain-lainUntuk menjaga agar kondisi ini tetap berlangsung, maka
saya sarankan agar lebih mengefektifkan promosi budaya
konsumtif dan hedonisme kepada mereka, kepada
agen-agen CIA agar memecah belah rakyatnya,
tebarkan kecurigaan dan fitnah di antara mereka,biar
mereka terus berkelahi dan tidak punya waktu untuk
melawan Imperialisme kita, terus rekrut generasi muda
terbaiknya agar bekerja untuk perusahaan-perusahaan
kita, sehingga tidak akan banyak gerakan yang
menentang kita.Sebelum mengakhiri pidato ini, saya ucapkan terima
kasih atas kerja sama yang luar biasa ini, kepada
seluruh pihak yang telah ikut serta membantu usaha
kita, perusahaan-perusahaan Multinasional, Televisi
dan Media masa, Bank Dunia, IMF, CGI, Negara-Negara
sekutu, Economic Hit Man, Mafia Berkeley, yang
terhormat pejabat korup indonesia. Dan lain-lain, dan
lain-lain.Sekian dan terima kasih.
President USA
George W. BushNB; sifat sangat rahasia, boleh di buka kepada public
25 tahun yang akan datang.Sumber : Confidential
Popularity: 7% [?]
14 Jun
intro: D D Bmin Bmin Emin
Gmin D Bmin A
D
ada yg benci dirinya
Emin A
ada yg butuh dirinya
D F#Aug Bmin
ada yg berlutut mencintanya
Emin A
ada pula yg kejam menyiksa dirinya
D Emin
ini hidup wanita si kupu-kupu malam
A D
bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
D Emin
bibir senyum kata halus merayu memanja
A
kepada setiap mereka yg datang
D
dosakah yg dia kerjakan
Emin A
sucikah mereka yg datang
D F#Aug Bmin
kadang dia tersenyum dalam tangis
Emin A
kadang dia menangis di dalam senyuman
D Emin
oh apa yg terjadi, terjadilah
A D Emin
yg dia tahu Tuhan penyayang umatnya
F#min Fmin Emin
oh apa yg terjadi, terjadilah
A D
yg dia tahu hanyalah menyambung nyawa
Guitar solo
D Bmin Emin Gmin
D Bmin Emin A
D Emin
oh apa yg terjadi, terjadilah
A D Emin
yg dia tahu Tuhan penyayang umatnya
F#min Fmin Emin
oh apa yg terjadi, terjadilah
A D
yg dia tahu hanyalah menyambung nyawa
D Bmin Emin Gmin
D Bmin Emin A
D
Popularity: 4% [?]
8 Jun
Untuk jadi bahan renungan …..
Mohon perkenan membaca beberapa cerita nyata berikut
ini. Bersyukurlah saya, kita semua.
“Nikmat Tuhan mana lagi yang akan engkau dustakan”.
(1)
SeKATA
SeKATA. SukarElawan duKA YogyakarTA. Kami tak
siapa-siapa. Hanya orang-orang yang masih punya
tenaga. Ada mahasiswa UGM, UII, UIN.
Mahasiswa Sulawesi Selatan, pegawai Lembaga Ombudsman
Daerah, Indonesian Court Monitoring, Keluarga Alumni
Gadjah Mada (Kagama) dan lain-lain. SeKATA punya cara
kerja sederhana. Mengumpulkan dana dari dermawan,
membelikan sembako di masa tanggap darurat, dan
menyalurkannya ke daerah yang belum tersentuh bantuan
sama sekali.
Semua bergerak dengan sukarela, dengan kerja nyata.
Tanpa banyak kata. Hanya demi korban gempa, ber-Seiya
Sekata, membangun barisan:
SukarElawan duKA YogyakarTA.
****
(2)
Gempa di Negeri Kampung Maling
Pasca gempa Yogya. Dusun Kepek, Jetis, Bantul.
Hadirlah bukti nyata Indonesia, “Negeri Kampung
Maling”. Pencuri mengambil kesempatan di tengah duka
gempa sekalipun.
Malam hari, gelap-gulita. Tak ada listrik, hanya
diterangi cahaya rembulan. Di tengah guyuran lebat
hujan. Di tenda posko yang seadanya.
Meluncurlah pick up bak terbuka. Berkedok seperti para
relawan membawa bantuan. Nyatanya, para relawan
gadungan itu tega, teramat tega.
Mereka tanpa hati mencuri sembilan motor korban gempa
yang sedang diparkir di samping posko bantuan.
“Hanya itu yang tersisa. Kami tak punya apa-apa”.
“Rumah tiada, sanak keluarga menjadi korban. Sekarang
kecurian”.
“Teganya mereka ya Allah”.
Di negeri kampung maling, gempa bukan hanya mengetuk
para relawan, tetapi juga para manusia yang tak punya
perasaan kemanusiaan.
*****
(3)
Kejujuran Kain Kafan
Seorang korban datang dari Klaten. Membawa kabar duka
ke sekian.
Warganya 18 orang menuju sakratul maut. Rumah sakit
sudah menyerah.
Mereka harus siap-siap dengan prosesi pemakaman ke
sekian.
Kain kafan tak tersedia di manapun mata memandang.
Meski demikian, uang 400 ribu diberikan ke seorang
relawan. Misinya: cari kain kafan.
Entah siapa sang relawan, kami pun tak kenal. Yang
jelas dia datang,menyatakan siap bergabung dengan
SeKATA. Dari pagi hingga sore, tak ada kabar.
Bendahara SeKATA mulai gelisah.
Menjelang Maghrib datanglah sang relawan. Membawa
segulung kain kafan.
Dengan muka sumringah.
“saya berputar. Tak ada kafan dimana-mana” .
Akhirnya di daerah Jalan Prambanan km 19 ada Dewa
Tekstil, yang sudah bersiap tutup.
“Mbak saya mau beli kain kafan. Untuk 18 orang korban
gempa”.
“Ambil saja Mas. Gratis”. Ada mata sayu, dan senyum
sendu seiring suara tulus itu.
“Alhamdulillah” .
Lalu sang relawan, masih dengan senyum, merogoh saku
celananya.
Dikeluarkannya uang 400 ribu. Diserahkannya kembali ke
bendahara SekATA.
“Gratis mbak, ini uangnya tidak jadi terpakai”.
Sang bendahara, tersenyum. Masih merasa berdosa,
karena sempat berprasangka buruk.
“Terimakasih mas”.
“Eh, siapa namamu”.
“Aris”.
Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih
ada kejujuran di negeri kampung maling.
Terimakasih Aris.
*****
(4)
Kejujuran Loper Koran
Pasca gempa. Loper koran saya masih rajin berkeliling
dengan sepeda ontelnya.
“Pak, bagaimana kondisi panjenengan” .
“Saya di Bantul Pak. Saya tidak punya rumah lagi.
Rubuh.”
“Hhhhh….turut berduka Pak. Bagaimana keluarga Bapak”
Tak ada sahutan. Hanya matanya mulai berkaca. Diam.
Dan berlalu dengan sepeda ontelnya.
Saya dan istri terdiam. Terpaku.
Esoknya.
“Pak ini ada bantuan sembako. Bapak bawa dan ini
ongkosnya”.
“Jangan Bu…kalau saya terima. Itu hanya untuk saya.
Padahal banyak warga di tempat saya yang membutuhkan.
Ibu bawa bantuan dan uang itu ke lokasi saja. Jangan
diberikan kepada saya”.
Ah…betul-betul air di tengah kemarau. Di tengah
banyak korban berteriak meminta bantuan. Sang loper
koran dengan wajah lugunya, suara seraknya, tetap
bertahan dengan idealisme sederhananya.
Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih
ada kejujuran di negeri kampung maling.
Terimakasih Pak Paijo.
*****
Popularity: 10% [?]
822
72
22
12
0
483
414
33
6
6
2
0
0
0
0