blog.adypermadi.com

Me, MySelf and I

[QOTD] Boss And Leader

– A boss creates fear, a leader confidence. A boss fixes blame, a leader corrects mistakes. A boss knows all, a leader asks questions. A boss makes work drudgery, a leader makes it interesting. A boss is interested in himself or herself, a leader is interested in the group.|Ewing, Russel H.

*abis ngeliat signature seseorang di milis*

Popularity: 2% [?]


Similar Post:  Don’t Drink and Drive - UNTITLED by Simple Plan | instal theme | New Hacker (and Blogger?) Manifesto | Konser KORN batal? | Kekunci… :D |

  • 0 Comments
  • Filed under: day by day
  • *Copy paste dari tempat lain*

    Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA tahun ini dan
    seterusnya.

    Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di
    serambi masjid. Saya diajak duduk bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi.
    Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan saya
    diminta bergabung.

    “Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,” kata Fadli
    setelah saya duduk.
    ”Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama,sekitab suci, senabi; tapi
    nanti kita akan berlebaran pada hari yang berbeda.
    Dikampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari
    Selasa.Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?”

    Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu
    memang terasa tidak bermutu, bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang
    merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang Ngalwi
    pasti akan digilas dengan jawaban: ”Sudahlah, pokoknya kita hormati
    keyakinan masing-masing. Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun
    Selasa, semua
    baik-baik saja karena keduanya berpegang dengan keyakinan masing-masing,
    dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang
    mereka ambil.”

    Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat Islam.
    Namun sebenarnya kearifan tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak
    nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di lapisan bawah.

    Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin
    mewakili perasaan umum masyarakat awam.
    Jelasya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang
    berbeda hari.

    Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah
    bertakbir dan masjid kita masih melakukan shalat Tarawih.

    Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap
    gulai kambing, berpakaian bagus, bergembira ria karena hari Lebaran
    sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa.

    Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa
    diterima oleh teman yang Lebarannya baru besok hari.

    ”Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab
    pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah merenung,” Fadli mengingatkan saya.

    ”Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama
    sering mendengar ceramah yang menyinggung masalah perbedaan hari
    Lebaran,”jawab saya.

    ”Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan
    lebih suka Lebaran bareng atau Lebaran sendiri-sendiri?” kejar Fadli.

    ”Saya lebih suka Lebaran bareng.”
    ”Kenapa?”
    ”Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi
    masih ada di tengah kita, saya yakin beliau tidak berkenan dengan
    Lebaran yang tidak kompak ini.”

    ”Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak
    dalam menentukan hari Lebaran?”

    Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan
    ditertawakan oleh para alim. Maka saya senang ketika Uun mengambil alih
    dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli.

    ”Begini, Fad,” kata Uun. ”Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin
    memang punya dasar berupa dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira,
    adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.”

    ”Memutlakkan bagaimana?”

    ”Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam
    yang amat menjunjung tinggi kebersamaan. Dan membuat umat di bawah
    menjadi tidak nyaman.”

    ”Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam
    adalah rahmat.”

    ”Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan.
    Dan saya sangat yakin Kanjeng Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari
    Lebaran ini.”

    ”Kalau begitu kamu punya gasasan apa?”

    ”Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi,
    Fad, kamu jangan kaget: Mari kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui
    keputusan politik. Ada beberapa opsi yang ingin saya tawarkan, tapi saya
    kemukakan satu saja yang paling sederhana.”

    ”Lebaran dengan keputusan politik?” tanya Fadli dengan mata melebar.
    Terus terang saya dan yang lain juga terkejut.

    ”Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA
    pernah mengambil keputusan politik untuk mengatur suatu ritus ibadah,
    dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat Tarawih berjamaah
    dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah
    itu bukan keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam
    waktu itu
    melaksanakan shalat Tarawih sendiri-sendiri sehingga di mata beliau
    kurang enak dipandang?”

    Kecuali Uun yang tertawa-tawa, lainnya jadi memasang wajah serius karena
    merasa tersodok oleh pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan,
    masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan omongannya.

    ”Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran
    kompak saja makmum ke Makkah? Maka kita akan melaksanakan shalat Id
    bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya pelaksanaannya
    kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku
    paling jago dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal.
    Dan yang penting kita jadi lebih patut karena sebagai umat yang mengaku
    paling baik, bisa berlebaran bareng.”

    Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan
    Kang Ngalwi amat-sangat setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu
    tadi, STAIN saja tidak tamat.

    Popularity: 4% [?]


    Similar Post:  Donald Trump’s Career Tips | Salah satu “sudut” diantara gempa Jogja dan Jawa Tengah | Tentang Sebuah Kebosanan | Himbauan Kepada Hacker & Cracker Indonesia & Malaysia | BERGERAK |

    Mungkin Sekali Saya Sendiri Juga Maling

    Oleh Taufiq Ismail

    Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani
    hutang dan merayap melata sengsara di dunia. Penganggur 40 juta orang,
    anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta
    anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus beredar 20 juta
    keping, kriminalitas merebat di setiap tikungan jalan dan beban hutang
    di bahu 1600 trilyun rupiahnya.

    Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor
    Pegadaian Jagat Raya, dan di punggung kita dicap sablon besar-besar
    Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan
    babu, menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.

    Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh
    harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka
    berdukacita karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang
    disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri
    diperas pula.

    Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
    Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku. Dulu penjajah
    kita satu negara, kini penjajah multi-kolonialis banyak bangsa. Mereka
    berdasi sutra, ramah-tamah luarbiasa dan banyak senyumnya. Makin banyak
    kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah
    dipatahkannya.

    Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali. Berbagai format
    perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian. Nomor satu
    paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji,
    adalah industri korupsi.

    Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
    ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
    Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
    jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,
    yang di atas tukang tindas. Untuk bisa bertahan berakal waras saja di
    Indonesia, sudah untung.

    Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah. Mereka bersaf-saf
    berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’. Begitu rapatnya
    mereka berdiri susah engkau menembusnya. Begitu sistematiknya
    prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya. Begitu khusyu’nya, engkau
    kira mereka beribadah. Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling
    yang istiqamah?

    Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan
    sampai ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah
    panjang deretan saf jamaah. Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan
    lintas jenis kelamin.

    Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah? Bagaimana
    menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas
    sampai ke bawah? Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari
    yang pegang senjata dan yang memerintah.

    Bagaimana ini?

    Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
    Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim
    piatu dan sekolahan.
    Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana ke mari, kaki kanannya
    bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

    Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak
    kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.
    Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
    Jamaahnya kukuh seperti diding keraton, tak mempan dihantam gempa dan
    banjir bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang
    undang-undang, penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi
    bergantian.

    Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan
    ribu, barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara
    mini, meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif,
    legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan
    mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya?

    Mau diperiksa dan diusut secara hukum?

    Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?

    Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?

    Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?

    Percuma

    Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak
    akan terselesaikan.
    Jadi, saudaraku, bagaimana caranya? Bagaimana caranya supaya mereka mau
    dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia mengembalikan jarahan yang
    berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan. Kita doakan
    Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka orang
    yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.

    Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

    Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada
    hubungan darah atau teman sekolah, maka kita cenderung tutup mata, tak
    sampai hati menegurnya.

    Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
    orang seagama atau sedaerah, kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu
    dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan
    cipratan harta tanpa ketahuan.

    Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati. Dan lihat
    kini jendela dan pintu rumah Indonesia dimakan rayap. Kayu kosen,
    tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai. Dinding dan langit-
    langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap. Tempat tidur dan
    lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah
    anai-anai.

    Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai
    habis dikunyah-kunyah rayap. Rumah Indonesia menunggu waktu, masa
    rubuhnya yang sempurna.

    Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
    Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.

    “Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!” teriak mereka.

    “Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.

    Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

    Aku melarikan diri kencang-kencang.

    Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi.

    Mereka menangkapku.

    “Ambil bensin!” teriak seseorang.

    “Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.

    Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

    Seseorang memantik korek api.

    Aku dibakar.

    Bau kawanan rayap hangus.

    Membubung Ke udara.

    ****

    Popularity: 2% [?]


    Similar Post:  Sekelumit Cerita dari Gempa Jogja | Pidato Presiden George W. Bush | [SADURAN] Sebuah Nasionalisme buat Saya | BERGERAK | Rumah Kita |
  • 1 Comment
  • Filed under: day by day
  • Batam, kota seribu ruko

    yak.. sampai di batam pkl 17.15, sempet bingung karena ternyata si tuan rumah mendadak ada tugas ke Jakarta, tadinya ada plan untuk nyebrang ke SG malam itu juga, tapi pertimbangan karena ada si kecil paling nggak harus stay di Batam dulu malam itu.

    Tapi untung ternyata si tuan rumah telah mengutus suaminya untuk menjemput kita. Syukurlah nggak perlu check in di Hotel. Habis itu langsung menuju Batam Center Mall, untuk mencari tiket kapal laut cepat ke SG, dan sekalian ibu2x darma wanita mencari minyak wangi, katanya sih murah-murah disitu. Terus terang gue nggak tertarik.

    Secara gue mencari MMC ataw SD card untuk camera gue yg ternyata udah full. Tanya2x ternyata harga nggak jauh dari Jakarta, dan di SG kabarnya lebih murah. Ya udah akhirnya jalan2x aja sama si kecil. Tiket kapal laut cepat pun “Wavemaster” banyak dijual disana sekitaran S$13.50 untuk sekali jalan atau S$14.00 untuk pulang pergi. Yah.. sangat beruntung bagi yang ingin pulang pergi dari batam ke SG. Secara kalau beli tiket di lokasi penyebrangannya langsung harga S$15 untuk pulang pergi. Sukur pula ternyata ibunya yang punya rumah sudah beli tiket sebanyak 10 buah, untuk stok katanya. Tapipun beli 10 buah itu masih dapat bonus 3 buah tiket. Ya.. lagi2x beruntung jikalau belinya banyak.

    Akhirnya sekitar pkl 19.00 tiba dirumah si tuan rumah di daerah Baloi (CMMIW - lupa). Sebelum sampai disitu melewati apa yang disebut “Bukit Telkomsel”, hehhehe.. karena ada bukit tertinggi dan ada “Neon Sign” besar TELKOMSEL - bukan spam - di bukit tsb, seperti tulisan “Holywood” di Holywood sana.

    Setelah basa-basi.. dan sedikit membersihkan diri, rencananya ingin makan di luar. Tapi dilihat dari kondisi si kecil sepertinya sudah lelah dan mengantuk. Akhirnya kita cuman keliling Kota Batam saja mengendarai mobil, dan berhenti sebentar di Money Changer untuk menukarkan uang dengan S$. Seperti yang tertera pada judul dilihat-lihat Kota Batam itu, setelah keliling2x ternyata banyak sekali rukonya. Oh iya sebelumnya kita sempat naik ke “Bukit Telkomsel” yag diatas sana sudah berdiri sebuah hotel yang bernama Hotel Vista (kalo dijakarta kayak nama karaoke keluarga :D). Dari atas bukit tersebut terlihatlah Kota Batam diwaktu malam dengan kerlap-kerlipnya dan nun jauh disana di seberang laut terlihat kerlap-kerlip dari Kota SG. Setelah foto2x sebentar, tak lama kemudian langsung cabut jalan lagi.
    Sampai dirumah mandi dan langsung tidur, pada pukul 1.30 dinihari ternyata suaminya tuan rumah bangun, saya juga bangun karena terdengar suara alarm handphone. Oh iya malam itu Portugal dan Perancis bertarung di lapangan sepakbola :D.

    Karena lelah gue hanya sedikit2x memicingkan mata untuk melirik TV yang ada di depan gue, selebihnya tidur. Tapi gue lihat koq tendangan penalti oleh Zidane yang membuat Perancis masuk final. Abis itu tidur lagi. :D

    Si kecil cape abis lompat2x dalem pesawat :D Dari atas pesawat - gambarnya jelek, bukan gue yg deket jendela Dari atas pesawat - gambarnya jelek, bukan gue yg deket jendela

    Hang Nadim - Batam Hang Nadim - Batam Di atas bukit Di atas bukit

    Popularity: 7% [?]


    Similar Post:  Perjalanan di mulai | Rumah Kita | Kekunci… :D | Mobil Kepedulian | Memperpanjang SIM di Bus SIM Keliling |
  • 17 Comments
  • Filed under: perjalanan
  • Perjalanan di mulai

    Yak, perjalanan dimulai hari rabu pukul 15.05, yang seharusnya hari kamis pagi. Dikarenakan pesawat Air Asia yang seharusnya terbang ternyata “masuk bengkel” padahal ticketnya sudah di order dari kapan tau. Ada dua pilihan berangkat lebih siang, sekitar jam 11-an atau maju di hari rabu pukul 15.05. Pilihan ternyata jatuh pada rabu pkl. 15.05 tetap pakai Air Asia dan tetap tujuan Batam seperti semula, untung aja gue udah ngambil cuti dari hari rabu.

    Tetapi ternyata saat keberangkatan pun ternyata tertunda, pesawatnya delay 30 menit. “Ahak-ahak…. endonesia… endonesia.. kalo nggak delay bukan pesawat endonesia namanya.. :D“.

    Rombongan bertambah 1 orang menjadi 4 orang dewasa dan 1 anak kecil, yang tadinya hanya 3 orang dewasa dan 1 anak kecil, dikarenakan temannya adiknya henny ikut bergabung. Rombongan awalnya sendiri tadinya gue, henny, adiknya henny dan aurell.

    secara (heh?!) tujuan sebenernya adalah kotanya si merlion, SG. Mo lewat batam selain fiskalnya - fiskal sux!!! (kayak yg sering bayar fiskal aje yeee.. :D - red) - lebih murah, sekalian pengen liat2x kota batam. eh.. tiket air asianya juga murah deng:D.

    Di batam sendiri rencananya akan bermalam di tempat tinggal temannya adiknya henny. Secara sih sebenernya bisa aja tinggal di hotel, tapi ya wislah.

    Ruang Tunggu 3 Ruang Tunggu 2 Ruang Tunggu 1

    Popularity: 4% [?]


    Similar Post:  Batam, kota seribu ruko | Mobil Kepedulian | Masyarakat dan Aparat Pemerintah Sudah Tidak Peduli Lagi | asal muasal hidupnya ini blog kembali | Selamat Jalan Si Bunga Surga! |
  • 4 Comments
  • Filed under: perjalanan
  • Pidato Presiden George W. Bush

    Pidato Presiden George W. Bush

    Sifat : Confidential
    Waktu : Confidential
    Tempat : Confidential

    Ehm ehm…

    Kepada yang terhormat Direktut CIA, FBI, Direktur Bank
    Dunia, ADB, IMF, CEO Haliburton, Exxon Mobil,
    Freeport, Bangkir2 Internasional, Dan semua yang telah
    membantu kami membiayai perang irak, Afganistan, serta
    menyebarluaskan kakuasaan Imperium global, Direktur
    media dan televisi CNN, ABC, NBC, yang telah membantu
    propaganda kita, kami ucapkan terima kasih

    Hari ini adalah hari yang sangat penting karena pada
    hari ini saya akan melaporkan keadaan indonesia,
    yang dulu kita takuti itu, sekarang sama sekali tak berdaya di
    hadapan kita.

    Karena kini tak ada satupun yang perlu kita takutkan
    dari negeri itu, laporan Intelejen mengatakan bahwa
    tak ada satupun bahaya potensial yang akan menggangu
    kepentingan kita di negeri itu.

    Kita tidak perlu takut kepada angkatan bersenjata
    mereka, karena senjata yang mereka gunakan adalah
    kiriman dari negeri kita, lihatlah ketika kita
    jatuhkan embargo senjata, tentara-tentara mereka
    seperti maung ompong ha ha ha ha (penonton tertawa),
    yang lebih lucu lagi kemarin presidennya sendiri yang
    memelas pada kita untuk menghentikan embargo itu ha
    haha. (penonton tertawa).. kasihan-kasihan.

    Tak perlu takut pada generasi mudanya, rupanya faham
    materialisme, budaya konsumtif, hedonisme,
    individualisme, yang kita ajarkan itu lewat
    iklan-iklan kita, tayangan-tanyangan televisi kita,
    film-film kita, propaganda-propaganda kita, sudah
    tertanam pada hati dan pikiran sebagian besar dari
    mereka, jangankan memikirkan negeri atau umatnya
    lebih-lebih agamanya, kini mereka hanya memikirkan
    kesenangan diri mereka sendiri, bayangkan saja Negara
    semiskin itu penduduknya menempati urutan tertinggi
    dalam urusan berbelanja baju ke Singapura, mengalahkan
    jepang, australia, dan cina sekalipun. ha ha ha
    (penonton tertawa ).

    Tak perlu takut tentang pelajar-pelajarnya, karena
    mahasiswa-mahasiswa terbaiknya selalu kita rekrut dan
    kita pekerjakan di perusahaan-perusahaan minyak atau
    tambang kita, dan kita menyuap mereka dengan gaji yang
    besarnya sama dengan loper koran di negeri kita ha ha
    ha. ( penonton tertawa ). Bayangkan orang-orang
    terbaiknya hadirin.

    Tak perlu takut kepada pemimpin politik dan
    pejabatnya, karena sebagian besar dari mereka adalah
    orang yang gila jabatan dan sangat mudah untuk di
    suap, untuk uang dan jabatan, mereka bisa kita minta
    untuk melakukan apa saja sesuai keinginan kita. ha ha
    ha ha ( penonton tertawa ).

    Tunggu,tunggu, Ada kabar yang lebih menggembirakan
    lagi, menurut laporan Intelejen yang saya terima,
    bahwa di sana telah terkotak-kotak menjadi
    banyak kelompok dan golongan. Tiap-tiap kelompok
    menjatuhkan yang lain dan mengganggap kelompoknya yang
    lebih baik dari yang lain, ada bibit kebencian yang
    besar di antara mereka yang dapat kita manfaatkan.
    sangat mudah bagi Intelejen kita yang berpengalaman
    untuk mengadu domba diantara mereka.

    Hutang mereka sudah sangat besar dan hampir mustahil
    bisa mereka bayar, 22% APBN mereka habis untuk
    membayar hutang kepada kita, sehingga mengurangi
    anggaran pendidikan mereka, kesehatan mereka, dan
    pelayanan sosial mereka. Sehingga di negeri itu banyak
    penduduknya yang kelaparan, miskin, sakit dan tak
    mampu berobat, ini merupakan keuntungan bagi kita.
    Karena semakin lama jika kondisi tidak berubah, maka
    akan tercipta generasi yang lemah dari negeri itu.
    Yang tidak akan mampu melawan kita, seperti yang
    selama ini kita harapkan.

    Kekayaan negeri mereka hampir semuanya kita kuasai,
    lebih dari 96 % ladang minyak mereka telah kita
    miliki, tambang batu-bara, tembaga, emas, yang
    beroperasi di negeri itu hampir semuanya adalah milik
    kita. Lebih dari itu mimuman-minuman, makanan-makanan,
    buku-buku, walau banyak yang ngopi, komputer-komputer,
    software-soffware mereka, walau banyak yang ngebajak,
    bahkan odol dan sabun yang mereka gunakan adalah
    produksi perusahaan2 kita. ha ha ha (penonton
    tertawa),

    ….Indonesia merupakan ladang dollar kita yang harus
    tetap kita pertahankan bagaimanapun caranya, 200 juta
    lebih penduduk negari itu merupakan konsumen bagi
    produk-produk perusahaan kita.

    Singkat kata Indonesia telah kalah dari kita baik dari
    segi Ekonomi, militer, politik, budaya,Teknologi, dan
    lain-lain dan lain-lain

    Untuk menjaga agar kondisi ini tetap berlangsung, maka
    saya sarankan agar lebih mengefektifkan promosi budaya
    konsumtif dan hedonisme kepada mereka, kepada
    agen-agen CIA agar memecah belah rakyatnya,
    tebarkan kecurigaan dan fitnah di antara mereka,biar
    mereka terus berkelahi dan tidak punya waktu untuk
    melawan Imperialisme kita, terus rekrut generasi muda
    terbaiknya agar bekerja untuk perusahaan-perusahaan
    kita, sehingga tidak akan banyak gerakan yang
    menentang kita.

    Sebelum mengakhiri pidato ini, saya ucapkan terima
    kasih atas kerja sama yang luar biasa ini, kepada
    seluruh pihak yang telah ikut serta membantu usaha
    kita, perusahaan-perusahaan Multinasional, Televisi
    dan Media masa, Bank Dunia, IMF, CGI, Negara-Negara
    sekutu, Economic Hit Man, Mafia Berkeley, yang
    terhormat pejabat korup indonesia. Dan lain-lain, dan
    lain-lain.

    Sekian dan terima kasih.

    President USA
    George W. Bush

    NB; sifat sangat rahasia, boleh di buka kepada public
    25 tahun yang akan datang.

    Sumber : Confidential

    Popularity: 7% [?]


    Similar Post:  Donald Trump’s Career Tips | Indonesia dan konspirasi Asing | Mengapa Islam Mengharamkan Babi | Salah satu “sudut” diantara gempa Jogja dan Jawa Tengah | ‘Blog’, Media Baru di Internet |
  • 6 Comments
  • Filed under: x-files
  • Kupu Kupu Malam

    intro: D D Bmin Bmin Emin
    Gmin D Bmin A

    D
    ada yg benci dirinya
    Emin A
    ada yg butuh dirinya
    D F#Aug Bmin
    ada yg berlutut mencintanya
    Emin A
    ada pula yg kejam menyiksa dirinya

    D Emin
    ini hidup wanita si kupu-kupu malam
    A D
    bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
    D Emin
    bibir senyum kata halus merayu memanja
    A
    kepada setiap mereka yg datang

    D
    dosakah yg dia kerjakan
    Emin A
    sucikah mereka yg datang
    D F#Aug Bmin
    kadang dia tersenyum dalam tangis
    Emin A
    kadang dia menangis di dalam senyuman

    D Emin
    oh apa yg terjadi, terjadilah
    A D Emin
    yg dia tahu Tuhan penyayang umatnya
    F#min Fmin Emin
    oh apa yg terjadi, terjadilah
    A D
    yg dia tahu hanyalah menyambung nyawa

    Guitar solo
    D Bmin Emin Gmin
    D Bmin Emin A

    D Emin
    oh apa yg terjadi, terjadilah
    A D Emin
    yg dia tahu Tuhan penyayang umatnya
    F#min Fmin Emin
    oh apa yg terjadi, terjadilah
    A D
    yg dia tahu hanyalah menyambung nyawa

    D Bmin Emin Gmin
    D Bmin Emin A
    D

    Popularity: 4% [?]


    Similar Post:  Salah satu “sudut” diantara gempa Jogja dan Jawa Tengah | Gunung Jangan Pula Meletus | Narsis atau PD, Nih? | Tak Bisakah | Masyarakat dan Aparat Pemerintah Sudah Tidak Peduli Lagi |
  • 2 Comments
  • Filed under: lyrics
  • Sekelumit Cerita dari Gempa Jogja

    Untuk jadi bahan renungan …..

    Mohon perkenan membaca beberapa cerita nyata berikut
    ini. Bersyukurlah saya, kita semua.

    “Nikmat Tuhan mana lagi yang akan engkau dustakan”.

    (1)

    SeKATA

    SeKATA. SukarElawan duKA YogyakarTA. Kami tak
    siapa-siapa. Hanya orang-orang yang masih punya
    tenaga. Ada mahasiswa UGM, UII, UIN.
    Mahasiswa Sulawesi Selatan, pegawai Lembaga Ombudsman
    Daerah, Indonesian Court Monitoring, Keluarga Alumni
    Gadjah Mada (Kagama) dan lain-lain. SeKATA punya cara
    kerja sederhana. Mengumpulkan dana dari dermawan,
    membelikan sembako di masa tanggap darurat, dan
    menyalurkannya ke daerah yang belum tersentuh bantuan
    sama sekali.

    Semua bergerak dengan sukarela, dengan kerja nyata.
    Tanpa banyak kata. Hanya demi korban gempa, ber-Seiya
    Sekata, membangun barisan:
    SukarElawan duKA YogyakarTA.

    ****

    (2)

    Gempa di Negeri Kampung Maling

    Pasca gempa Yogya. Dusun Kepek, Jetis, Bantul.
    Hadirlah bukti nyata Indonesia, “Negeri Kampung
    Maling”. Pencuri mengambil kesempatan di tengah duka
    gempa sekalipun.

    Malam hari, gelap-gulita. Tak ada listrik, hanya
    diterangi cahaya rembulan. Di tengah guyuran lebat
    hujan. Di tenda posko yang seadanya.
    Meluncurlah pick up bak terbuka. Berkedok seperti para
    relawan membawa bantuan. Nyatanya, para relawan
    gadungan itu tega, teramat tega.
    Mereka tanpa hati mencuri sembilan motor korban gempa
    yang sedang diparkir di samping posko bantuan.

    “Hanya itu yang tersisa. Kami tak punya apa-apa”.

    “Rumah tiada, sanak keluarga menjadi korban. Sekarang
    kecurian”.

    “Teganya mereka ya Allah”.

    Di negeri kampung maling, gempa bukan hanya mengetuk
    para relawan, tetapi juga para manusia yang tak punya
    perasaan kemanusiaan.

    *****

    (3)

    Kejujuran Kain Kafan

    Seorang korban datang dari Klaten. Membawa kabar duka
    ke sekian.
    Warganya 18 orang menuju sakratul maut. Rumah sakit
    sudah menyerah.
    Mereka harus siap-siap dengan prosesi pemakaman ke
    sekian.

    Kain kafan tak tersedia di manapun mata memandang.
    Meski demikian, uang 400 ribu diberikan ke seorang
    relawan. Misinya: cari kain kafan.
    Entah siapa sang relawan, kami pun tak kenal. Yang
    jelas dia datang,menyatakan siap bergabung dengan
    SeKATA. Dari pagi hingga sore, tak ada kabar.
    Bendahara SeKATA mulai gelisah.

    Menjelang Maghrib datanglah sang relawan. Membawa
    segulung kain kafan.
    Dengan muka sumringah.

    “saya berputar. Tak ada kafan dimana-mana” .

    Akhirnya di daerah Jalan Prambanan km 19 ada Dewa
    Tekstil, yang sudah bersiap tutup.

    “Mbak saya mau beli kain kafan. Untuk 18 orang korban
    gempa”.

    “Ambil saja Mas. Gratis”. Ada mata sayu, dan senyum
    sendu seiring suara tulus itu.

    “Alhamdulillah” .

    Lalu sang relawan, masih dengan senyum, merogoh saku
    celananya.
    Dikeluarkannya uang 400 ribu. Diserahkannya kembali ke
    bendahara SekATA.

    “Gratis mbak, ini uangnya tidak jadi terpakai”.

    Sang bendahara, tersenyum. Masih merasa berdosa,
    karena sempat berprasangka buruk.

    “Terimakasih mas”.

    “Eh, siapa namamu”.

    “Aris”.

    Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih
    ada kejujuran di negeri kampung maling.

    Terimakasih Aris.

    *****

    (4)

    Kejujuran Loper Koran

    Pasca gempa. Loper koran saya masih rajin berkeliling
    dengan sepeda ontelnya.

    “Pak, bagaimana kondisi panjenengan” .

    “Saya di Bantul Pak. Saya tidak punya rumah lagi.
    Rubuh.”

    “Hhhhh….turut berduka Pak. Bagaimana keluarga Bapak”

    Tak ada sahutan. Hanya matanya mulai berkaca. Diam.
    Dan berlalu dengan sepeda ontelnya.

    Saya dan istri terdiam. Terpaku.

    Esoknya.

    “Pak ini ada bantuan sembako. Bapak bawa dan ini
    ongkosnya”.

    “Jangan Bu…kalau saya terima. Itu hanya untuk saya.
    Padahal banyak warga di tempat saya yang membutuhkan.
    Ibu bawa bantuan dan uang itu ke lokasi saja. Jangan
    diberikan kepada saya”.

    Ah…betul-betul air di tengah kemarau. Di tengah
    banyak korban berteriak meminta bantuan. Sang loper
    koran dengan wajah lugunya, suara seraknya, tetap
    bertahan dengan idealisme sederhananya.

    Aku tersenyum. Masih ada harapan. Meski langka, masih
    ada kejujuran di negeri kampung maling.

    Terimakasih Pak Paijo.

    *****

    Popularity: 10% [?]


    Similar Post:  Pemulihan Trauma Pasca Gempa | Masyarakat dan Aparat Pemerintah Sudah Tidak Peduli Lagi | Mobil Kepedulian | TIPS MENGHADAPI POLANTAS | Salah satu “sudut” diantara gempa Jogja dan Jawa Tengah |
    "Kebesaran seseorang tidak terlihat ketika ia berdiri dan memberi perintah, tetapi ketika ia berdiri sama tinggi dengan orang lain dan membantu orang lain untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka guna mencapai sukses..."

    Photos

    P6020371Picture 219Picture 218Picture 190Picture 189P6020390P6020375P6020374P6020373P6020372P6020371P6020370

    Categories

    Calendar

    October 2008
    M T W T F S S
    « Sep    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

    Stats:

    • Posts 142
    • Comments 888
    • Tags 57
    • Categories 20
    • Words in Posts 64,622
    • Words in Comments 31,849

    BlogRoll


    Loved One


    Prends


    Seruangan


    Archives


    Meta


      Writing

      205 articles
      975 comments

        Comments

        platform
        822 
        72 
        22 
        12 


        browsers
        483
        414
        33
        6
        6
        2
        0
        0
        0
        0